“Kenapa harus ada cinta jika akhirnya
hanya ada luka? Kenapa harus ada senyum jika akhirnya ada air mata? Kenapa
harus ada pertemuan jika akhirnya ada perpisahan? Kenapa harus ada itu semua
jika akhirnya hanya meyisakan luka dan air mata?”
Saat itu Afika sedang jalan-jalan di taman dekat
rumahnya. Tak disangka terdengar suara yang memanggil namanya dari kejauhan.
Afika mencari arah suara tersebut tapi tidak ditemukan siapa-siapa. Akhirnya
afika meneruskan jalannya. Tidak disangka ada seseorang yang menepuk bahunya.
“Hy kamu afika?” Kata pria tersebut
(Afika terdiam)
“Hy kamu masih inget aku?” Kata pria tersebut
“Haah? Ohh iya iya aku masih inget. Kamu Aldo
bukan? Sahabat aku waktu kecil?”
(Pria tersebut hanya menganggukan kepala)
Sungguh Afika sangat bahagia saat itu. Pria yang ia
tunggu-tunggu kini datang kembali. Aldo yang sempat pergi meninggalkannya kini
telah kembali. Kini Aldo menjadi pria yang tampan dan gagah. Afika pun terpana
dengan pesona yang Aldo tunjukan.
“Ehh kamu fika diem aja, enggak kangen apa sama
aku?” Kata Aldo meledek
“Haah?
Kangen? Kangen sama kamu? Iyalah aku kangen siapa sih yang gak kangen kamu Do?”
Kata Afika dengan senyum
“Hahaha
kangen toh, kirain kamu gak kangen aku” Kata Aldo sambil menahan tawa
“Gimana udah punya pacar?” Kata Afika
dengan gugup
“Hah
pacar? Udah dong. Kamu gimana udah punya pacar?” Kata Aldo dengan senyum
“Hahaha
aku belum punya pacar Do aku fokus sekolah dulu” Kata Afika menahan sedihnya
“Ohh
mau fokus sekolah toh, kirain aku kamu udah punya pacar” Kata Aldo sambil
tersenyum
“Iya
aku belum punya pacar karena aku nunggu kamu, nunggu kamu nembak aku, nunggu
kamu tepatin janji kamu ke aku Do, janji kamu” Kata Afika dalam Hati
“Maafin
aku Afika, aku udah ngelanggar janji. Aku terpakasa aku gak bisa. Maafin aku
Afika maafin aku” Kata Aldo dalam hati
“Hmm,
mau ketemu mama sama papa aku gak? Kamu gak kangen sama mereka?” kata Afika
dengan senyum
“Yaudah
ayo kerumah kamu” Kata Aldo
Selama diperjalanan mereka hanya terdiam. Setelah sampai
dirumah Afika, ia mempersilakan Aldo untuk masuk. Setelah berada dirumah Afika,
Aldo langsung bertegur sapa dengan kedua orang tua Afika. Dan untuk melepas
kangen Aldo mengajak Afika ke saung yang berada di halaman belakang milik
Afika. Setelah sampai disaung Aldo terdiam dan berkata.
“Kalo duduk disini inget dulu, banyak banget
kenangan sama kamu Fika” Kata Aldo
“Iya
Do banyak banget kenangan yang kita laluin disini. Ehhh aku kedalem dulu ya
ngambil minuman buat kamu Do.” Kata Afika dengan senyum
Saat Afika kedalam rumah aldo melihat pemanangan yang
berada disekitar saung. Ternyata ada secarik kertas yang terselip disela-sela
atap saung. Aldo membuka tulisan tersebut. Saat Aldo membuka kertas tersebut
betapa terkagetnya dia ternyata isi didalam kertas itu adalah “ALDO PERMANA aku
kangen kamu, kapan kamu balik”. Tak lama Aldo mengambil pulpen yang berada di
kantong celananya dan menuliskan “AFIKA PERMATA aku udah balik dan sekarang
berada disisih kamu”. Sambil menunggu Afika Aldo berkata dalam hati.
“Mungkin
kamu sekarang sakit hati Fika sama langkah yang aku ambil. Tapi aku gak mau
terpisah sama kamu lagi Fika. Aku mikir kalo aku sama kamu jadian terus kita
berantem terus kita putus kita bakal jadi musuh Fika aku gak mau itu terjadi.
Aku taku kehilangan kamu Fika Aku takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya.
Aku sayang kamu Fika, tapi aku gak bisa.”
Tak lama Afika pun datang membawa dua gelas minuman. Aldo
pun langsung mengambil minuman tersebut lalu meminumnya. Afika bertanya-tanya
dengan kekasih Aldo. Ingin rasanya Afika bertanya tentang kekasih Aldo, tapi
Afika takut sakit hati mendengarkan cerita Aldo.
“Aldo kamu kenal pacarmu dimana?” Kata Afika
menahan sedih
“Hmm, aku satu sekolah sama dia Fika” Kata Aldo
“Ohh satu sekolah toh hehe” Kata Afika sambil
tersenyum
“Kamu gimana sekolah lancar?” Kata Aldo
“Lancar
kok, lancar banget malah aku semangat loh sekarang sekolahnya. Biar bisa nyusul
kamu, biar bisa bareng-bareng sama kamu. Tapi kayanya sia-sia” Kata Afika
menahan air matanya
“Hahaha
udah fokus sekolah jangan urusin ini, semua bakal bahagia kok. Aku sayang kamu
Fika” Kata Aldo sambil memeluk Afika
“Iyaa
Do aku juga sayang kamu sayang aku ngelebihin sahabat, tapi sayang kamu ke aku
gak ngelebihin sayang seorang sahabat” Kata Afika dalam hati
“Maafin
aku Afika udah buat kamu sakit, maafin aku” Kata Aldo dalam hati
Pagi harinya Afika berdandan sangat cantik. Membuat seisi
rumah terpesona dengan penampilan yang di tunjuka Afika. Afika saat itu memang
berpenampilan sangat berbeda. Dari ujung kaki sampai ujung kepala. Afika
berharap kemarin itu hanya mimpi, Ia berharap Aldo tidak mempunyai kekasih.
Saat ditanya oleh kedua orangtuanya afika hanya menjawab dengan senyuman. Afika
langsung pergi menuju ruamah Aldo. Saat sesampainya disana ternyata sudah ada
wanita cantik. Afika langsung menyapa mereka.
“Hai Aldo” Kata Afika dengan senyum
“Hai kamu Afika yaa? Kenalin aku Elena” Kata Elena
sambil mengulurkan tangan
“Afika” Kata Afika dengan senyum
“Ini
ya yang cewe yang kamu ceritain tadi. Dia tau gak pas lulus SMA nanti kita mau
tunangan?” Kata Elena dengan bahagia
“Hah
apa tunangan?” Kata Afika menahan sedih
“Kenapa?
Kamu ikut seneng kan?” Kata Elena bingung
“Ohhh
iyaiya ikut see…seneng kok selamat ya semoga lancar nanti tunangannya” Kata
Afika sambil berlari menjauhi mereka
Sungguh afika sagat terluka. Saat sampai dirumah ia
langsung berlari menuju kamarnya. Ia sangat kecewa. Kecewa dengan keadaan ini.
Kecewa dengan semuanya. Afika begitu sakit. Tak menyangka ini semua terjadi.
Afika Sangat sakit hati dengan kenyataan ini ia berteriak didalam kamarnya.
“Kenapa
semuanya tega, kenapa semua gak ngerti perasaan Fika? Kenapa? Kenapa? Fikaa
salah apa sampe kenyataan pahit kaya gini? Aldo kamu kenapa kaya gini kenpa?
Salah aku apa sama kamu Do? Salah apa aku Aldo? Kamu gak kasian sama aku dari
umur 6 tahun aku suka sama kamu Aldo, aku nunggu kamu sampe sekarang sampe umur
aku umur 17 tahun Aldo. 12 tahun aku nunggu kamu Aldo, tapi kamu bales apa
Aldo. Tega kamu Do tega” Teriak Afika
Kesedihan Afika membuat keluarga menjadi sedih. Mamanya
selalu membujuk agar Afika keluar dari kamar, tapi tak ada hasil. Begitu juga
dengan Ayahnya sudah dibujuk susah payah, Afika tetap berada didalam kamarnya.
Seisi rumah sudah berusaha untuk membujuk Afika tapi afika tetap tak mau keluar
dari kamar. Dan akhirnya Mamanya menelfon Aldo untuk berbicara kepada Afika dan
membujuknya untuk keluar kamar. Dan Aldo pun akhirnya datang dan langsung
berlari menuju kamar Afika lalu mengetuk kamar Afika.
“Afika
buka pintunya ini aku Aldo, cepet buka pintunya jagan kaya anak kecil kamu
Fika. Inget umur Fika” Kata Aldo
“Buat
apa kamu balik lagi Do? Buat apa? Belum puas nyakitin aku? Belum puas hah? Mau
buat aku kaya gimana lagi Do? Cukup Do, pergi jauh tinggalin aku” Kata Afika
dari dalam kamar
“Aku
bilang buka pintunya buka Fika” Kata Aldo kesal
(Afika
membuka pintu)
“Aku
minta maaf udah nyakitin kamu udah ngecewain kamu” Kata Aldo sedih
“Gak
perlu minta maaf, aku yang terlalu berharap sama kamu. Udah Do cukup sakit sama
kamu 12 tahun aku nunggu kamu, tapi yang aku dapet cuma harapan. Harapan yang
gak akan pernah jadi nyata Do. Sekarang meskipun sakit aku ikhlas Do buat
ngerelain kamu sama Elena, mungkin Elena yang terbaik buat kamu. Semoga kamu
bahagia ya nanti sama dia. Kamu udah say hello sama aku dong sekarang kamu
tinggal say good bye sama aku” Kata Afika menahan tangis
“Selamat
tinggal Afika. Asal kamu tau aku sayang kamu. Kamu bakalan tetap di hati aku
meskipun kita gak bisa sama-sama” Kata
Aldo
Setelah itu Afika berusaha melupakan kenangan tentang
Aldo, berusaha membuka lembaran baru yang lebih berwarna. Dan Afika sempat
tersenyum setelah melihat foto mereka berdua dengan berkata “Makasih udah
ajarin aku arti sebuah penantian, arti sebuah pengorbanan, arti sebuah cinta,
arti sebuah pertemuan, dan arti sebuhah perpisaahan. Makasih ini semua aku
jadikan pelajaran. Di dunia ini harus memilih yang pasti, jika memilih yang
tidak pasti hanya dua jawabannya tersakiti atau disakiti”……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar