Minggu, 21 April 2013

Say Hallo Say Good Bye


                        “Kenapa harus ada cinta jika akhirnya hanya ada luka? Kenapa harus ada senyum jika akhirnya ada air mata? Kenapa harus ada pertemuan jika akhirnya ada perpisahan? Kenapa harus ada itu semua jika akhirnya hanya meyisakan luka dan air mata?”
            Saat itu Afika sedang jalan-jalan di taman dekat rumahnya. Tak disangka terdengar suara yang memanggil namanya dari kejauhan. Afika mencari arah suara tersebut tapi tidak ditemukan siapa-siapa. Akhirnya afika meneruskan jalannya. Tidak disangka ada seseorang yang menepuk bahunya.
                  “Hy kamu afika?” Kata pria tersebut
                  (Afika terdiam)
                  “Hy kamu masih inget aku?” Kata pria tersebut
                  “Haah? Ohh iya iya aku masih inget. Kamu Aldo bukan? Sahabat aku waktu kecil?”
                  (Pria tersebut hanya menganggukan kepala)
            Sungguh Afika sangat bahagia saat itu. Pria yang ia tunggu-tunggu kini datang kembali. Aldo yang sempat pergi meninggalkannya kini telah kembali. Kini Aldo menjadi pria yang tampan dan gagah. Afika pun terpana dengan pesona yang Aldo tunjukan.
                  “Ehh kamu fika diem aja, enggak kangen apa sama aku?” Kata Aldo meledek
                  “Haah? Kangen? Kangen sama kamu? Iyalah aku kangen siapa sih yang gak kangen kamu Do?” Kata Afika dengan senyum
                  “Hahaha kangen toh, kirain kamu gak kangen aku” Kata Aldo sambil menahan tawa
                  “Gimana udah punya pacar?” Kata Afika dengan gugup
                  “Hah pacar? Udah dong. Kamu gimana udah punya pacar?” Kata Aldo dengan senyum
                  “Hahaha aku belum punya pacar Do aku fokus sekolah dulu” Kata Afika menahan sedihnya
                  “Ohh mau fokus sekolah toh, kirain aku kamu udah punya pacar” Kata Aldo sambil tersenyum
                  “Iya aku belum punya pacar karena aku nunggu kamu, nunggu kamu nembak aku, nunggu kamu tepatin janji kamu ke aku Do, janji kamu” Kata Afika dalam Hati
                  “Maafin aku Afika, aku udah ngelanggar janji. Aku terpakasa aku gak bisa. Maafin aku Afika maafin aku” Kata Aldo dalam hati
                  “Hmm, mau ketemu mama sama papa aku gak? Kamu gak kangen sama mereka?” kata Afika dengan senyum
                  “Yaudah ayo kerumah kamu” Kata Aldo
            Selama diperjalanan mereka hanya terdiam. Setelah sampai dirumah Afika, ia mempersilakan Aldo untuk masuk. Setelah berada dirumah Afika, Aldo langsung bertegur sapa dengan kedua orang tua Afika. Dan untuk melepas kangen Aldo mengajak Afika ke saung yang berada di halaman belakang milik Afika. Setelah sampai disaung Aldo terdiam dan berkata.
                  “Kalo duduk disini inget dulu, banyak banget kenangan sama kamu Fika” Kata Aldo
                  “Iya Do banyak banget kenangan yang kita laluin disini. Ehhh aku kedalem dulu ya ngambil minuman buat kamu Do.” Kata Afika dengan senyum
            Saat Afika kedalam rumah aldo melihat pemanangan yang berada disekitar saung. Ternyata ada secarik kertas yang terselip disela-sela atap saung. Aldo membuka tulisan tersebut. Saat Aldo membuka kertas tersebut betapa terkagetnya dia ternyata isi didalam kertas itu adalah “ALDO PERMANA aku kangen kamu, kapan kamu balik”. Tak lama Aldo mengambil pulpen yang berada di kantong celananya dan menuliskan “AFIKA PERMATA aku udah balik dan sekarang berada disisih kamu”. Sambil menunggu Afika Aldo berkata dalam hati.
                  “Mungkin kamu sekarang sakit hati Fika sama langkah yang aku ambil. Tapi aku gak mau terpisah sama kamu lagi Fika. Aku mikir kalo aku sama kamu jadian terus kita berantem terus kita putus kita bakal jadi musuh Fika aku gak mau itu terjadi. Aku taku kehilangan kamu Fika Aku takut kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Aku sayang kamu Fika, tapi aku gak bisa.”
            Tak lama Afika pun datang membawa dua gelas minuman. Aldo pun langsung mengambil minuman tersebut lalu meminumnya. Afika bertanya-tanya dengan kekasih Aldo. Ingin rasanya Afika bertanya tentang kekasih Aldo, tapi Afika takut sakit hati mendengarkan cerita Aldo.
                  “Aldo kamu kenal pacarmu dimana?” Kata Afika menahan sedih
                  “Hmm, aku satu sekolah sama dia Fika” Kata Aldo
                  “Ohh satu sekolah toh hehe” Kata Afika sambil tersenyum
                  “Kamu gimana sekolah lancar?” Kata Aldo
                  “Lancar kok, lancar banget malah aku semangat loh sekarang sekolahnya. Biar bisa nyusul kamu, biar bisa bareng-bareng sama kamu. Tapi kayanya sia-sia” Kata Afika menahan air matanya
                  “Hahaha udah fokus sekolah jangan urusin ini, semua bakal bahagia kok. Aku sayang kamu Fika” Kata Aldo sambil memeluk Afika
                  “Iyaa Do aku juga sayang kamu sayang aku ngelebihin sahabat, tapi sayang kamu ke aku gak ngelebihin sayang seorang sahabat” Kata Afika dalam hati
                  “Maafin aku Afika udah buat kamu sakit, maafin aku” Kata Aldo dalam hati
            Pagi harinya Afika berdandan sangat cantik. Membuat seisi rumah terpesona dengan penampilan yang di tunjuka Afika. Afika saat itu memang berpenampilan sangat berbeda. Dari ujung kaki sampai ujung kepala. Afika berharap kemarin itu hanya mimpi, Ia berharap Aldo tidak mempunyai kekasih. Saat ditanya oleh kedua orangtuanya afika hanya menjawab dengan senyuman. Afika langsung pergi menuju ruamah Aldo. Saat sesampainya disana ternyata sudah ada wanita cantik. Afika langsung menyapa mereka.
                  “Hai Aldo” Kata Afika dengan senyum
                  “Hai kamu Afika yaa? Kenalin aku Elena” Kata Elena sambil mengulurkan tangan
                  “Afika” Kata Afika dengan senyum
                  “Ini ya yang cewe yang kamu ceritain tadi. Dia tau gak pas lulus SMA nanti kita mau tunangan?” Kata Elena dengan bahagia
                  “Hah apa tunangan?” Kata Afika menahan sedih
                  “Kenapa? Kamu ikut seneng kan?” Kata Elena bingung
                  “Ohhh iyaiya ikut see…seneng kok selamat ya semoga lancar nanti tunangannya” Kata Afika sambil berlari menjauhi mereka
            Sungguh afika sagat terluka. Saat sampai dirumah ia langsung berlari menuju kamarnya. Ia sangat kecewa. Kecewa dengan keadaan ini. Kecewa dengan semuanya. Afika begitu sakit. Tak menyangka ini semua terjadi. Afika Sangat sakit hati dengan kenyataan ini ia berteriak didalam kamarnya.
                  “Kenapa semuanya tega, kenapa semua gak ngerti perasaan Fika? Kenapa? Kenapa? Fikaa salah apa sampe kenyataan pahit kaya gini? Aldo kamu kenapa kaya gini kenpa? Salah aku apa sama kamu Do? Salah apa aku Aldo? Kamu gak kasian sama aku dari umur 6 tahun aku suka sama kamu Aldo, aku nunggu kamu sampe sekarang sampe umur aku umur 17 tahun Aldo. 12 tahun aku nunggu kamu Aldo, tapi kamu bales apa Aldo. Tega kamu Do tega” Teriak Afika
            Kesedihan Afika membuat keluarga menjadi sedih. Mamanya selalu membujuk agar Afika keluar dari kamar, tapi tak ada hasil. Begitu juga dengan Ayahnya sudah dibujuk susah payah, Afika tetap berada didalam kamarnya. Seisi rumah sudah berusaha untuk membujuk Afika tapi afika tetap tak mau keluar dari kamar. Dan akhirnya Mamanya menelfon Aldo untuk berbicara kepada Afika dan membujuknya untuk keluar kamar. Dan Aldo pun akhirnya datang dan langsung berlari menuju kamar Afika lalu mengetuk kamar Afika.
                  “Afika buka pintunya ini aku Aldo, cepet buka pintunya jagan kaya anak kecil kamu Fika. Inget umur Fika” Kata Aldo
                  “Buat apa kamu balik lagi Do? Buat apa? Belum puas nyakitin aku? Belum puas hah? Mau buat aku kaya gimana lagi Do? Cukup Do, pergi jauh tinggalin aku” Kata Afika dari dalam kamar
                  “Aku bilang buka pintunya buka Fika” Kata Aldo kesal
                  (Afika membuka pintu)
                  “Aku minta maaf udah nyakitin kamu udah ngecewain kamu” Kata Aldo sedih
                  “Gak perlu minta maaf, aku yang terlalu berharap sama kamu. Udah Do cukup sakit sama kamu 12 tahun aku nunggu kamu, tapi yang aku dapet cuma harapan. Harapan yang gak akan pernah jadi nyata Do. Sekarang meskipun sakit aku ikhlas Do buat ngerelain kamu sama Elena, mungkin Elena yang terbaik buat kamu. Semoga kamu bahagia ya nanti sama dia. Kamu udah say hello sama aku dong sekarang kamu tinggal say good bye sama aku” Kata Afika menahan tangis
                  “Selamat tinggal Afika. Asal kamu tau aku sayang kamu. Kamu bakalan tetap di hati aku meskipun kita gak bisa sama-sama” Kata  Aldo
            Setelah itu Afika berusaha melupakan kenangan tentang Aldo, berusaha membuka lembaran baru yang lebih berwarna. Dan Afika sempat tersenyum setelah melihat foto mereka berdua dengan berkata “Makasih udah ajarin aku arti sebuah penantian, arti sebuah pengorbanan, arti sebuah cinta, arti sebuah pertemuan, dan arti sebuhah perpisaahan. Makasih ini semua aku jadikan pelajaran. Di dunia ini harus memilih yang pasti, jika memilih yang tidak pasti hanya dua jawabannya tersakiti atau disakiti”……..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar