Saat ini Zahra duduk termenung
dihalaman kampusnya. Zahra termenung memikirkan semua yang tak mungkin terjadi.
Sungguh Zahra ingin membuang semua rasanya saat ini. Dan memang seharusnya rasa
ini ia buang sejak lama. Zahra benar-benar harus membuang semuanya. Ia tak
boleh terus menerus seperti ini. Ini akan menyakitkan jika terus dilanjutkan.
Saat Zahra termenung ternyata ia di kagetkan
dengan kedatangan Geby. Geby ini adalah sahabat Zahra sejak kecil. Zahra dan
Geby seperti adik dan kakak kemana saja mereka selalu berdua. Zahra sangat care
dengan Geby, dan juga sebaliknya Geby pun juga care dengan Zahra.
“Hy ngelamun aja nih kamu Zahra!”
Kata Geby
“Ehhhh kamu Geby ngagetin aja” Kata
Zahra sambil tersenyum
“Kenapa kamu ngelamun Zahra?” Tanya
Geby
“Ohh gak apa-apa kok By, aku cuma
mikir aja!” Kata Zahra
“Mikir apa kamu Ra?” Tanya Geby
“Aku mau kerja Geby, tapi aku
bingung mau kerja apa!” Kata Zahra
“HAH KAMU SERIUS RA?” Tanya Geby
dengan kaget
“Iya Geby sayang aku serius ini, aku
gak mau ngerepotin ortu” Kata Zahra
“Ya udah emang kamu mau kerja apa?”
Tanya Geby
“Aku rencananya mau kerja di café,
mau jadi penyanyi café” Kata Zahra
“Ohh ya udah deh aku nurut aja yang
penting kamu seneng Ra, ohh iya Ra aku cabut duluan ya, ada kelas nih aku.. Bye
Ra” Kata Geby sambil tersenyum
Dan
setelah berbicara dengan Geby, Zahra langsung melamar pekerjaan di café. Cukup
lama Zahra mencari café yang pas untuk dia bekerja. Setelah sekian banyak café
yang ia kunjungi akhirnya dia dapatkan café yang pas untuk dirinya. Café
tersebut tidak mewah, tapi suasana yang disediakan café tersebut sangat nyaman.
Dan akhirnya Zahra melamar pegerjaan di café tersebut sebagai penyanyi. Dan
akhirnya dia diterima di café tersebut.
Zahra
sangat senang telah mendapatkan pekerjaan. Ia pun langsung pulang kerumah. Dan
akhirnya Zahra pun sampai dirumah. Ia pun tersenyum dengan manis kepada seluruh
keluarganya. Sampai-sampai seluruh keluarganya dibuat bingung olehnya. Adik
laki-lakinya pun merasa heran dengan sikap kakaknya tersebut.
“Ihhhh kakak lu kenapa kak?” Kata
Roby
“Ihhh kepo banget lu de” Kata Zahra
sambil tersenyum
“Ihhh aneh lu kak, kaya orang gila”
Kata Roby
“Ihhh parah banget lu de kakak
sendiri dibilang gila” Kata Zahra
“Lah lagian lu kak tumben sampe
rumah senyum, biasanya cemberut mulu pengen banget gua sterika tau kak muka
lu.. hahahahahahah” Kata Roby
“Parah banget lu de sama kakak
sendiri hahahaha, iya gua lagi seneng de” Kata Zahra sambil tertawa
“hahaha lu bisa seneng kak? Hahaha
seneng kenapa kak?” Kata Roby penasarah
“Ihhhh kepo banget lu de jadi orang
sumpah.. Hahahahah” Kata Zahra sambil tertawa
“Ihhh kakak gua serius, lu seneng
kenapa?” Tanya Roby
“Hahahah adek gua kepo banget ini,
gua dapet kerja de” Kata Zahra
“Hah kerja apaan lu kak?” Tanya Roby
“Nyanyi di café Roby sayang” Kata
Zahra sambil tersenyum
“Aaa kakak selamet ya, hahaha bisa
nih teraktir Roby” Kata Roby
“Hahaha ayo ikut gua kerja di café
de, tar gua teraktir lu makan disana” Kata Zahra tersenyum
“Hah serius lu kak? Tumben baik lu
kak” Kata Roby bingung
“Yeee iya gua serius Roby sayang, lu
besok liburkan?” Tanya Zahra
“Iya kak gua libur, kenapa emang
kak?” Kata Roby
“Ayo ikut gua kita jalan-jalan, tapi
lu yang nyupirin ya de, tar gua minta izin sama mama” Kata Zahra sambil
tersenyum
“Wew oke deh kak atur aja atru. Jam
berapa kak?” Kata Roby
“Sekarang de, lu mandi cepet sana”
Kata Zahra sambil berlalu dari hadapan Roby
Setelah
pembicaraan tersebut Zahra langsung menuju kamarnya. Ia lansung menyiapkan
semuanya. Satelah semua sudah siap, ia langsung bergegas untuk mandi. Setelah
itu ia langsung keluar kamar dan menuju dapur untuk menemui mamanya untuk
meminta izin. Setelah mendapatkan izin, Zahra pun langsung pergi menuju café
bersama adiknya. Kira-kira satu jam perjalanan, akhirnya mereka samapai tempat
tujuan. Zahra pun langsung masuk dan mempersiapkan diri. Ia menuruh adiknya
duduk paling pojokm dan Roby pun menurut saja. Dan akhirnya Zahra tampil
bernyanyi.
Saat
ia menaiki panggung ia merasa gugup. Ia menatap pengunjung café, dan mata dia
tertuju pada Geby yang telah duduk manis dengan kekasihnya bernama Kevin.
Sungguh sakit hati Zahra melihat kemesraan itu, tapi Zahra menepis semua rasa
itu, karena ia tak ingin menyakiti hati sahabatnya sendiri. Akhirnya Zahra
langsung mengambil gitar dan memulai memperkenalkan diri lalu muali bernyanyi.
“Selamat malam.. Saya penyanyi baru
di café ini, perkenalkan saya Zahra Putri. Kalian bisa manggil saya Zahra. Oke
tanpa buang-buang waktu sekarang saya akan memulai bernyanyi…
Pedih
bila kuingat lagi
Janji
yang pernah kita ucapkan dulu
Mengapa
kini kau ubah semuanya
Tak
mengerti, tak mengerti aku
*Biarkan
lah cinta tak berbalas bila memang harus
Kunikmati
Cinta hanya sebatas mimpi
Biar
saja kasih indah tak pernah lekat
Walau
semua ini hanya sebatas mimpi
#Kasih
ingatkah saat-saat mesra
Berdua
selalu kita dalam cinta
Mengapa
kini kau ubah semuanya
Tak
mengerti, tak mengerti aku
Repeat
*
Tak
ku sangka semuanya berakhir
Hanya
karna kau berpaling
Repeat
*
Huuuu
hanya sebatas mimpi
Baiklah ada yang ingin lagu
favoritenya yang ingin saya nyanyikan?”Tanya Zahra
“Saya dong lagunya pengen di nanyiin
sama Zahra” Kata salah satu pengunjung
“Iya
boleh, lagu apa yang harus saya nyanyikan?” Kata Zahra sambil tersenyum
“Lagunya Krispatih dong yang CINTA
PUTIH” Kata Salah satu pengunjung
“Ohh iya baiklah akan saya
nyanyikannya, selamat mendengarkan
Khianati…..
Sebisa
dirimu mengkhianati
Karena
ku pastikan kelak kau mohon aku,Untuk kembali padamu lagi
Sekian lagu yang bisa saya
nyanyikan hari ini, selamat menikmati hidangan yang telah café ini sediakan.
Terimakasih” Kata Zahra
Setelah
menyayi Zahra turun dari panggung, ia langsung menghampiri adiknya yang duduk
sendirian dan sedang menikmati makan malamnya. Saat itu Zahra hanya bisa
tersenyum melihat adiknya. Sungguh baru kali ini ia jalan berdua dengan
adiknya, dan melihat senyuman bangga di adiknya. Dan akhirnya Zahra mengajak
Roby bicara.
“Enak de makanannya?” Kata Zahra
sambil tersenyum
“Hah? Ehh kakak, enak kok kak
makanannya” Kata Roby sambil tersenyum
“Syukurlah de kalo enak” Kata Zahra
sambil tersenyum
“Hehehe, oh iya kak gua tadi suara
lu bagus banget kak, apa lagi main gitarnya beeehhh saik banget dah kak,
kapan-kapan duet yuk kak main gitarnya hahahaha” Kata Roby sambil tertawa
“Hahaha iya apa de bagus? Lu muji
apa ngina nih de? Hahaha ohh iya ayo aja de kita duet, tapikan dirumah cuma ada
satu gitar de?” Kata Zahra sambil tertawa
“Ihhhh lu mau gua ngina lu kak? Hahahah
serius kok kak suara lu bagus banget. Ohh iya ya kak Cuma punya satu lupa gua”
Kata Roby
“Ya udah de gitar urusan gampang,
gaji gua disini lumayan kok” Kata Zahra sambil tersenyum
“Okey deh kakak, kak kapan pulang?”
Kata Roby sambil tersenyum
“Iya ini mau pulang kok, ya udah lu
ke mobil duluan gih sana, tar gua nyusul” Kata Zahra sambil tersenyum
Akhirnya
mereka berdua pun pulang setelah Zahra bernanyi di café. Zahra sangat senang
bisa membahagiakan adiknya. Meskipun hanya diajak makan di café tempat ia
bekerja. Ia berniat untuk memberikan gitar untuk adiknya. Ia ingin membuat
adiknya tersenyum bahagia. Zahra pun bangga memiliki adik seperti Roby.
Akhirnya
mereka sampai dirumah. Zahra pun berterima kasih kepada adiknya. Zahra tak
menyangka jika adiknya bersedia mengendarai mobil saat itu, biasanya Roby tak
pernah mau jika disuruh mengendarai mobil jika disuruh Zahra. Zahra sangat
senang dengan perubahan adiknya. Akhirnya Zahra menuju kamarnya untuk menulis
sebuah diary..
Setelah
menulis diary, Zahra pun berjalan menuju balkon rumahnya. Dia bersenandung
sambil memainkan gitarnya. Sungguh Zahra saat itu sangat hancur. Ia bimbang
dengan keputusan yang harus ia ambil. Keputusan yang akan membuatnya sakit
hati. Zahra pun bernyanyi dengan sangat menghayati. Sungguh tak terasa air
matanya telah jatuh membasahi pipinya.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku
tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku
tersesat dan tak tau arah jalan pulang
Aku
tanpamu butiran debu” Zahra bernyanyi
Tak
terasa air mata Zahra mengalir begitu deras. Dan ia tak menyadari kedatangan
adiknya yang saat itu telah berdiri didepan pintu kamarnya. Sungguh Roby sangat
sedih saat melihat kakaknya seperti itu. Baru pertama kali ia melihat kakaknya
sedih seperti itu, tak tega hatinya membiarkan kakaknya sendirian. Dan Roby
langsung menghampiri kakaknya.
“Kak
Zahra” Kata Roby
“Ehh
lu Rob, kenapa?” Kata Zahra sambil menghapus air matanya
“Kakak
nangis ya?” Tanya Roby
“Hah?
Nangis? Gak kok de, gua gak nangis” Kata Zahra sambil tersenyum
“Kakak
jangan boong deh, kakak nangiskan?” Kata Roby
“Gak
kok de, ini kak kelilipan tau” Kata Zahra sambil tersenyum
“Kakak Roby mohon sama kakak, kakak
jujur dong sama Roby” Kata Roby sambl memegang tangan kakaknya
“Sini lu duduk gua ceritain” Kata
Zahra
“Oke kak” Kata Roby lalu duduk
disebelah Zahra
“Pertama gua mau tanya, lu punya
sahabat deket de selama ini?” Tanya Zahra
“Punya kak, gua punya sahabat,
kenapa emang?” Kata Roby
“Tar dulu lu jangan tanya kenapa
dulu, sekarang tugas lu jawab dulu pertanyaan gua, baru nanti gua ceritain”
Kata Zahra
“Iya maaf kak, lu mau nanya apaan
lagi?”Tanya Roby
“Gua mau tanya, sahabat lu itu punya
pacar gak de? Terus lu suka gak sama pacarnya sahabat lu itu?” Tanya Zahra
“Sahabat gua punya pacar kak, beehhh
cantik banget lagi kak, gua bukan suka lagi kak sumpah gua sayang banget sama
tu cewe kak” Kata Roby
“Terus perasaan lu itu lu ungkapin
apa lu pendem?” Tanya Zahra
“Hmm sebetulnya sih ya kak gua
pengen ungkapin perasaan gua sama pacarnya sahabat gua itu, tapi semua gua
pendem kak, gua gak mau ngancurin persahabatan gua sama sahabat gua” Kata Roby
“Berarti gua yang salah de dalam
masalah gua!” Kata Zahra sambil menangis
“Loh kenapa kak?” Tanya Roby
Setelah
bercerita dengan adiknya Zahra lumayan sedikit tenang. Zahra sangat senang
mempunyai adik seperti Roby yang mengerti perasaan dirinya. Sungguh Zahra
sangat salut dengan adiknya yang bisa menasehatinya, dan memberi saran kepada
Zahra. Akhirnya Zahra mengirim E-mail kepada seorang pria.
“LEBIH BAIK KITA AKHIRI SEMUANYA,
SEBELUM SEMUANYA TERLAMBAT. LUPAIN AKU LUPAIN KENANGAN KITA. KAMU SUDAH
MEMILIKI KEKASIH, AKU HANYA PENGERUSAK DALAM HUBUNGAN KALIAN. CUKUP AKU RASAKAN
SAKIT INI. CUKUP AKU MENYAKITI WANITA ITU. CUKUP, LEBIH BAIK AKU MENGALAH AGAR
TAK ADA YANG LEBIH TERLUKA. MAAF AKU SEMUA INI AKU LAKUKAN. TOLONG BENCI AKU
SAAT INI, BENCI AKU UNTUK DETIK INI, MENIT INI, JAM INI, HINGGA SELAMANYA AKU
HARAP KAMU MEMBENCIKU, SEPERTI AKU MEMBENCI KAMU SAAT INI” Isi E-mail dari
Zahra
Setelah
menulis E-mail tersebut hati Zahra lumanya sedikit tenang. Hati dia sedikit
lebih bahagia. Zahra kini bisa tersenyum. Zahra bernyanyi sekeras-kerasnya agar
hatinya lebih leluasa lagi. Kini Zahra merasakan hidup yang sebenarnya. Zahra
sudah bisa mengambil keputusan yang sangat nekat. Tapi dengan kenekatan itu
Zahra lebih bisa bahagia.
Pagi
harinya Zahra sengaja tidak masuk kuliah. Ia ingin merasakan suasanan yang
lebih tenang dahulu sebelum masuk kuliah. Sekitar jam 9 pagi, Zahra mengajak
adiknya Roby untuk pergi. Roby pun menyanggupinya, dan Roby menawari untuk dia
yang mengendarai mobilnya. Dan Zahra pun hanya tersenyum manis dengan perbuatan
adiknya tersebut. Zahra sangat bahagia memiliki adik seperti Roby yang bisa
mengerti keadaan.
Mereka
berdua berjalan menuju toko alat musik. Roby pun heran kenapa kakaknya
mengajaknya ke toko alat musik. Zahra pun turun dari mobil dan langsung masuk
ke toko tersebut. Zahra langsung menyuruh Roby memilih gitar yang ia inginkan.
Roby pun sangat kaget dengan kakaknya. Dia pun menatap mata Zahra dalam-dalam
seperti ingin menyakinkan apakan ini benar, lalu Zahra pun hanya mengangguk.
Roby pun sangat senang dan tersenyum bahagia. Setelah mendapatkan gitar yang
diinginkan. Roby pun memeluk kakaknya dan berkata “Makasih ya kak udah beliin
Roby gitar, Roby sayang kakak”. Zahra pun hanya tersenyum.
Setelah
membeli gitar Roby dan Zahra pun pergi menuju café tempat Zahra bekerja. Setelah
sampai tempat tujuan Zahra pun masuk ke dalam café untuk menemui pemilik café tersebut
dan meminta izin untuk mengajak adiknya bekerja bersama dirinya untuk hari ini
saja. Dan akhirnya pemilik café tersebut mengiyakan keinginan Zahra. Dan setelah
itu ia mengajak adiknya untuk berlatih memainkan sebuah lagu yang akan
dibawakannya. Setelah berlatih Zahra pun naik ke panggung. Lalu mulai memetik
gitarnya dan lalu bernyanyi.
“Bagaimana nasib cintaku, hatiku
masih hidup diragamu, masih saja ku menganggapmu, aku pasanganmu seperti dahulu…….
Kau mimpi besar ku” Petikan lagu yang dibawakan Zahra
Setelah
menyanyikan lagu tersebut Zahra terun dari panggung dan tersenyum bahagia
kepada adiknya. Sungguh Zahra sangat senang bisa berduet dengan adiknya. Moment
yang sangat jarang ia dapatkan bersama adiknya. Begitu pula dengan Roby, ia pun
juga tersenyum bahagia terhadap kakaknya.
Setelah
kejadian itu Zahra bisa melupakan semuanya. Dan berpikir yang dahulu tak pernah
ia pikirkan sebelumnya. “MUNGKIN HANYA ORANG BODOH YANG MEMBIARKAN CINTA TUMBUH
DIDALAM SEBUAH PERSAHABATAN. PERSAHABATAN JAUH LEBIH PENTING DARI CINTA. JIKA
MEMANG ITU CINTA, DIA TAK PERLU DIKEJAR IA AKAN DATANG DENGAN SENDIRINYA
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar