Selasa, 26 Juni 2012

MUNGKIN YANG TERBAIK Part1


Saat ini Zahra duduk termenung dihalaman kampusnya. Zahra termenung memikirkan semua yang tak mungkin terjadi. Sungguh Zahra ingin membuang semua rasanya saat ini. Dan memang seharusnya rasa ini ia buang sejak lama. Zahra benar-benar harus membuang semuanya. Ia tak boleh terus menerus seperti ini. Ini akan menyakitkan jika terus dilanjutkan.
      Saat  Zahra termenung ternyata ia di kagetkan dengan kedatangan Geby. Geby ini adalah sahabat Zahra sejak kecil. Zahra dan Geby seperti adik dan kakak kemana saja mereka selalu berdua. Zahra sangat care dengan Geby, dan juga sebaliknya Geby pun juga care dengan Zahra.
            “Hy ngelamun aja nih kamu Zahra!” Kata Geby
            “Ehhhh kamu Geby ngagetin aja” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Kenapa kamu ngelamun Zahra?” Tanya Geby
            “Ohh gak apa-apa kok By, aku cuma mikir aja!” Kata Zahra
            “Mikir apa kamu Ra?” Tanya Geby
            “Aku mau kerja Geby, tapi aku bingung mau kerja apa!” Kata Zahra
            “HAH KAMU SERIUS RA?” Tanya Geby dengan kaget
            “Iya Geby sayang aku serius ini, aku gak mau ngerepotin ortu” Kata Zahra
            “Ya udah emang kamu mau kerja apa?” Tanya Geby
            “Aku rencananya mau kerja di café, mau jadi penyanyi café” Kata  Zahra
            “Ohh ya udah deh aku nurut aja yang penting kamu seneng Ra, ohh iya Ra aku cabut duluan ya, ada kelas nih aku.. Bye Ra” Kata Geby sambil tersenyum
      Dan setelah berbicara dengan Geby, Zahra langsung melamar pekerjaan di café. Cukup lama Zahra mencari café yang pas untuk dia bekerja. Setelah sekian banyak café yang ia kunjungi akhirnya dia dapatkan café yang pas untuk dirinya. Café tersebut tidak mewah, tapi suasana yang disediakan café tersebut sangat nyaman. Dan akhirnya Zahra melamar pegerjaan di café tersebut sebagai penyanyi. Dan akhirnya dia diterima di café tersebut.
      Zahra sangat senang telah mendapatkan pekerjaan. Ia pun langsung pulang kerumah. Dan akhirnya Zahra pun sampai dirumah. Ia pun tersenyum dengan manis kepada seluruh keluarganya. Sampai-sampai seluruh keluarganya dibuat bingung olehnya. Adik laki-lakinya pun merasa heran dengan sikap kakaknya tersebut.
            “Ihhhh kakak lu kenapa kak?” Kata Roby
            “Ihhh kepo banget lu de” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Ihhh aneh lu kak, kaya orang gila” Kata Roby
            “Ihhh parah banget lu de kakak sendiri dibilang gila” Kata Zahra
            “Lah lagian lu kak tumben sampe rumah senyum, biasanya cemberut mulu pengen banget gua sterika tau kak muka lu.. hahahahahahah” Kata Roby
            “Parah banget lu de sama kakak sendiri hahahaha, iya gua lagi seneng de” Kata Zahra sambil tertawa
            “hahaha lu bisa seneng kak? Hahaha seneng kenapa kak?” Kata Roby penasarah
            “Ihhhh kepo banget lu de jadi orang sumpah.. Hahahahah” Kata Zahra sambil tertawa
            “Ihhh kakak gua serius, lu seneng kenapa?” Tanya Roby
            “Hahahah adek gua kepo banget ini, gua dapet kerja de” Kata Zahra
            “Hah kerja apaan lu kak?” Tanya Roby
            “Nyanyi di café Roby sayang” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Aaa kakak selamet ya, hahaha bisa nih teraktir Roby” Kata Roby
            “Hahaha ayo ikut gua kerja di café de, tar gua teraktir lu makan disana” Kata Zahra tersenyum
            “Hah serius lu kak? Tumben baik lu kak” Kata Roby bingung
            “Yeee iya gua serius Roby sayang, lu besok liburkan?” Tanya Zahra
            “Iya kak gua libur, kenapa emang kak?” Kata Roby
            “Ayo ikut gua kita jalan-jalan, tapi lu yang nyupirin ya de, tar gua minta izin sama mama” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Wew oke deh kak atur aja atru. Jam berapa kak?” Kata Roby
            “Sekarang de, lu mandi cepet sana” Kata Zahra sambil berlalu dari hadapan Roby
      Setelah pembicaraan tersebut Zahra langsung menuju kamarnya. Ia lansung menyiapkan semuanya. Satelah semua sudah siap, ia langsung bergegas untuk mandi. Setelah itu ia langsung keluar kamar dan menuju dapur untuk menemui mamanya untuk meminta izin. Setelah mendapatkan izin, Zahra pun langsung pergi menuju café bersama adiknya. Kira-kira satu jam perjalanan, akhirnya mereka samapai tempat tujuan. Zahra pun langsung masuk dan mempersiapkan diri. Ia menuruh adiknya duduk paling pojokm dan Roby pun menurut saja. Dan akhirnya Zahra tampil bernyanyi.
      Saat ia menaiki panggung ia merasa gugup. Ia menatap pengunjung café, dan mata dia tertuju pada Geby yang telah duduk manis dengan kekasihnya bernama Kevin. Sungguh sakit hati Zahra melihat kemesraan itu, tapi Zahra menepis semua rasa itu, karena ia tak ingin menyakiti hati sahabatnya sendiri. Akhirnya Zahra langsung mengambil gitar dan memulai memperkenalkan diri lalu muali bernyanyi.
            “Selamat malam.. Saya penyanyi baru di café ini, perkenalkan saya Zahra Putri. Kalian bisa manggil saya Zahra. Oke tanpa buang-buang waktu sekarang saya akan memulai bernyanyi…
              Pedih bila kuingat lagi
              Janji yang pernah kita ucapkan dulu
              Mengapa kini kau ubah semuanya
              Tak mengerti, tak mengerti aku
              *Biarkan lah cinta tak berbalas bila memang harus
              Kunikmati Cinta hanya sebatas mimpi
              Biar saja kasih indah tak pernah lekat
              Walau semua ini hanya sebatas mimpi
              #Kasih ingatkah saat-saat mesra
              Berdua selalu kita dalam cinta
              Mengapa kini kau ubah semuanya
              Tak mengerti, tak mengerti aku
              Repeat *
              Tak ku sangka semuanya berakhir
              Hanya karna kau berpaling
              Repeat *
              Huuuu hanya sebatas mimpi
             
              Baiklah ada yang ingin lagu favoritenya yang ingin saya nyanyikan?”Tanya Zahra
           
            “Saya dong lagunya pengen di nanyiin sama Zahra” Kata salah satu pengunjung
            “Iya boleh, lagu apa yang harus saya nyanyikan?” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Lagunya Krispatih dong yang CINTA PUTIH” Kata Salah satu pengunjung
            “Ohh iya baiklah akan saya nyanyikannya, selamat mendengarkan
              Khianati…..
              Sebisa dirimu mengkhianati
              Karena ku pastikan kelak kau mohon aku,Untuk kembali padamu lagi
              Sekian lagu yang bisa saya nyanyikan hari ini, selamat menikmati hidangan yang telah café ini sediakan. Terimakasih” Kata Zahra
      Setelah menyayi Zahra turun dari panggung, ia langsung menghampiri adiknya yang duduk sendirian dan sedang menikmati makan malamnya. Saat itu Zahra hanya bisa tersenyum melihat adiknya. Sungguh baru kali ini ia jalan berdua dengan adiknya, dan melihat senyuman bangga di adiknya. Dan akhirnya Zahra mengajak Roby bicara.
            “Enak de makanannya?” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Hah? Ehh kakak, enak kok kak makanannya” Kata Roby sambil tersenyum
            “Syukurlah de kalo enak” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Hehehe, oh iya kak gua tadi suara lu bagus banget kak, apa lagi main gitarnya beeehhh saik banget dah kak, kapan-kapan duet yuk kak main gitarnya hahahaha” Kata Roby sambil tertawa
            “Hahaha iya apa de bagus? Lu muji apa ngina nih de? Hahaha ohh iya ayo aja de kita duet, tapikan dirumah cuma ada satu gitar de?” Kata Zahra sambil tertawa
            “Ihhhh lu mau gua ngina lu kak? Hahahah serius kok kak suara lu bagus banget. Ohh iya ya kak Cuma punya satu lupa gua” Kata Roby
            “Ya udah de gitar urusan gampang, gaji gua disini lumayan kok” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Okey deh kakak, kak kapan pulang?” Kata Roby sambil tersenyum
            “Iya ini mau pulang kok, ya udah lu ke mobil duluan gih sana, tar gua nyusul” Kata Zahra sambil tersenyum
      Akhirnya mereka berdua pun pulang setelah Zahra bernanyi di café. Zahra sangat senang bisa membahagiakan adiknya. Meskipun hanya diajak makan di café tempat ia bekerja. Ia berniat untuk memberikan gitar untuk adiknya. Ia ingin membuat adiknya tersenyum bahagia. Zahra pun bangga memiliki adik seperti Roby.
      Akhirnya mereka sampai dirumah. Zahra pun berterima kasih kepada adiknya. Zahra tak menyangka jika adiknya bersedia mengendarai mobil saat itu, biasanya Roby tak pernah mau jika disuruh mengendarai mobil jika disuruh Zahra. Zahra sangat senang dengan perubahan adiknya. Akhirnya Zahra menuju kamarnya untuk menulis sebuah diary..
      Setelah menulis diary, Zahra pun berjalan menuju balkon rumahnya. Dia bersenandung sambil memainkan gitarnya. Sungguh Zahra saat itu sangat hancur. Ia bimbang dengan keputusan yang harus ia ambil. Keputusan yang akan membuatnya sakit hati. Zahra pun bernyanyi dengan sangat menghayati. Sungguh tak terasa air matanya telah jatuh membasahi pipinya.
            “Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
              Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
              Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang
              Aku tanpamu butiran debu” Zahra bernyanyi

      Tak terasa air mata Zahra mengalir begitu deras. Dan ia tak menyadari kedatangan adiknya yang saat itu telah berdiri didepan pintu kamarnya. Sungguh Roby sangat sedih saat melihat kakaknya seperti itu. Baru pertama kali ia melihat kakaknya sedih seperti itu, tak tega hatinya membiarkan kakaknya sendirian. Dan Roby langsung menghampiri kakaknya.
            “Kak Zahra” Kata Roby
            “Ehh lu Rob, kenapa?” Kata Zahra sambil menghapus air matanya
            “Kakak nangis ya?” Tanya Roby
            “Hah? Nangis? Gak kok de, gua gak nangis” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Kakak jangan boong deh, kakak nangiskan?” Kata Roby
            “Gak kok de, ini kak kelilipan tau” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Kakak Roby mohon sama kakak, kakak jujur dong sama Roby” Kata Roby sambl memegang tangan kakaknya
            “Sini lu duduk gua ceritain” Kata Zahra
            “Oke kak” Kata Roby lalu duduk disebelah Zahra
            “Pertama gua mau tanya, lu punya sahabat deket de selama ini?” Tanya Zahra
            “Punya kak, gua punya sahabat, kenapa emang?” Kata Roby
            “Tar dulu lu jangan tanya kenapa dulu, sekarang tugas lu jawab dulu pertanyaan gua, baru nanti gua ceritain” Kata Zahra
            “Iya maaf kak, lu mau nanya apaan lagi?”Tanya Roby
            “Gua mau tanya, sahabat lu itu punya pacar gak de? Terus lu suka gak sama pacarnya sahabat lu itu?” Tanya Zahra
            “Sahabat gua punya pacar kak, beehhh cantik banget lagi kak, gua bukan suka lagi kak sumpah gua sayang banget sama tu cewe kak” Kata Roby
            “Terus perasaan lu itu lu ungkapin apa lu pendem?” Tanya Zahra
            “Hmm sebetulnya sih ya kak gua pengen ungkapin perasaan gua sama pacarnya sahabat gua itu, tapi semua gua pendem kak, gua gak mau ngancurin persahabatan gua sama sahabat gua” Kata Roby
            “Berarti gua yang salah de dalam masalah gua!” Kata Zahra sambil menangis
            “Loh kenapa kak?” Tanya Roby
      Setelah bercerita dengan adiknya Zahra lumayan sedikit tenang. Zahra sangat senang mempunyai adik seperti Roby yang mengerti perasaan dirinya. Sungguh Zahra sangat salut dengan adiknya yang bisa menasehatinya, dan memberi saran kepada Zahra. Akhirnya Zahra mengirim E-mail kepada seorang pria.
            “LEBIH BAIK KITA AKHIRI SEMUANYA, SEBELUM SEMUANYA TERLAMBAT. LUPAIN AKU LUPAIN KENANGAN KITA. KAMU SUDAH MEMILIKI KEKASIH, AKU HANYA PENGERUSAK DALAM HUBUNGAN KALIAN. CUKUP AKU RASAKAN SAKIT INI. CUKUP AKU MENYAKITI WANITA ITU. CUKUP, LEBIH BAIK AKU MENGALAH AGAR TAK ADA YANG LEBIH TERLUKA. MAAF AKU SEMUA INI AKU LAKUKAN. TOLONG BENCI AKU SAAT INI, BENCI AKU UNTUK DETIK INI, MENIT INI, JAM INI, HINGGA SELAMANYA AKU HARAP KAMU MEMBENCIKU, SEPERTI AKU MEMBENCI KAMU SAAT INI” Isi E-mail dari Zahra
      Setelah menulis E-mail tersebut hati Zahra lumanya sedikit tenang. Hati dia sedikit lebih bahagia. Zahra kini bisa tersenyum. Zahra bernyanyi sekeras-kerasnya agar hatinya lebih leluasa lagi. Kini Zahra merasakan hidup yang sebenarnya. Zahra sudah bisa mengambil keputusan yang sangat nekat. Tapi dengan kenekatan itu Zahra lebih bisa bahagia.
      Pagi harinya Zahra sengaja tidak masuk kuliah. Ia ingin merasakan suasanan yang lebih tenang dahulu sebelum masuk kuliah. Sekitar jam 9 pagi, Zahra mengajak adiknya Roby untuk pergi. Roby pun menyanggupinya, dan Roby menawari untuk dia yang mengendarai mobilnya. Dan Zahra pun hanya tersenyum manis dengan perbuatan adiknya tersebut. Zahra sangat bahagia memiliki adik seperti Roby yang bisa mengerti keadaan.
      Mereka berdua berjalan menuju toko alat musik. Roby pun heran kenapa kakaknya mengajaknya ke toko alat musik. Zahra pun turun dari mobil dan langsung masuk ke toko tersebut. Zahra langsung menyuruh Roby memilih gitar yang ia inginkan. Roby pun sangat kaget dengan kakaknya. Dia pun menatap mata Zahra dalam-dalam seperti ingin menyakinkan apakan ini benar, lalu Zahra pun hanya mengangguk. Roby pun sangat senang dan tersenyum bahagia. Setelah mendapatkan gitar yang diinginkan. Roby pun memeluk kakaknya dan berkata “Makasih ya kak udah beliin Roby gitar, Roby sayang kakak”. Zahra pun hanya tersenyum.
      Setelah membeli gitar Roby dan Zahra pun pergi menuju café tempat Zahra bekerja. Setelah sampai tempat tujuan Zahra pun masuk ke dalam café untuk menemui pemilik café tersebut dan meminta izin untuk mengajak adiknya bekerja bersama dirinya untuk hari ini saja. Dan akhirnya pemilik café tersebut mengiyakan keinginan Zahra. Dan setelah itu ia mengajak adiknya untuk berlatih memainkan sebuah lagu yang akan dibawakannya. Setelah berlatih Zahra pun naik ke panggung. Lalu mulai memetik gitarnya dan lalu bernyanyi.
            “Bagaimana nasib cintaku, hatiku masih hidup diragamu, masih saja ku menganggapmu, aku pasanganmu seperti dahulu……. Kau mimpi besar ku” Petikan lagu yang dibawakan Zahra
      Setelah menyanyikan lagu tersebut Zahra terun dari panggung dan tersenyum bahagia kepada adiknya. Sungguh Zahra sangat senang bisa berduet dengan adiknya. Moment yang sangat jarang ia dapatkan bersama adiknya. Begitu pula dengan Roby, ia pun juga tersenyum bahagia terhadap kakaknya.
      Setelah kejadian itu Zahra bisa melupakan semuanya. Dan berpikir yang dahulu tak pernah ia pikirkan sebelumnya. “MUNGKIN HANYA ORANG BODOH YANG MEMBIARKAN CINTA TUMBUH DIDALAM SEBUAH PERSAHABATAN. PERSAHABATAN JAUH LEBIH PENTING DARI CINTA. JIKA MEMANG ITU CINTA, DIA TAK PERLU DIKEJAR IA AKAN DATANG DENGAN SENDIRINYA
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar