“De, kamu tidak sekolah? Ini
udah jam berapa? Kamu nanti telat loh De” Kata Mama dari ruang makan
“Apa sih ma? Aku udah bangun
ini mau mandi. Memangnya sekarang jam berapa? Sampe teriak-teriak gitu
banguninya? Gak kaya biasanya” Teriak Mona dari dalam kamar
“Jam 6 kurang 15, kamu cepetan
kenapa sih De? Kamu tumben bangun telat cepet mandi terus makan” Kata Mama
Tanpa menghiraukan kata mamanya Mona langsung bergegas mandi
lalu memakai seragamnya. Mona sempat melihat jam dinding. Tapi ia tak
menghiraukannya. Setelah selesai Mona langsung berlari menuju ruang makan. Mona
langsung duduk dan mengambil sarapan yang telah disiapkan. Tiba-tiba suara Mama
memecah suasana.
“De, kamu mau
berangkat jam berapa? Udah jam 6 lewat ini. Tar kamu telat gimana?” Kata Mama
dengan panik
“Yaaaahhhh Mama
kenapa gak bilang sih kalo udah jam segini? Aduh mama ihhhh Mona jadi telat”
Kata Mona dengan panik
“Apa harus lo gua
anter De?” Kata Galih kakak Mona
“Haah ayo deh
anterin Kak gua udah telat nih” Kata Mona dengan bersedih
“Ya sudah lo cepet
ya gua tunggu diluar” Kata Galih
Mona langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah hatinya sudah
berdegup kencang. Ia ingat jika hari ini pelajaran pertama diisi oleh Bu Sonya.
Guru yang sudah dicap sebagai guru “GALAK” ya terbukti dari sikap Bu Sonya yang
sangat tegas kepada muridnya. Bu Sonya paling tidak suka jika ada muridnya yang
telat dan berbicara saat dia menerangkan pelajaran. Hati Mona semakin berdegup
kencang. Diperjalanan Mona sangat gelisa dan ia melepas kesunyian.
“Kak cepetan kak, Mona takut. Tolong cepet lagi kak” Kata Mona
dengan gelisah
Tanpa menghiraukan Adiknya, Galih langsung mengendarai motornya
dengan cepat. Mona berpegangan erat saat Kakaknya melaju dengan cepat. Mona
sampai sekolah pukul 06.35. Hatinya semakin berdetak kencang. Mona langsung
lari menuju kelasnya. Mona sangat takut waktu itu. Ia berguma dalam hati.
“Aduh Mona Lo tuh
bodoh banget sih. Kenapa pake lupa sih lo Mon, aduhhh oon banget lo ahh. Bad day
ever Mon. Haaah” Kata Mona dalam hati
Saat hendak masuk kelas, Bu Sonya menyambut Mona dengan tampang
tidak enak. Mona langsung mengerti apa yang maksud Bu Sonya. Mona langsung
duduk di depan kelasnya. Tak lama dari kejauhan terlihat seorang pria berlari
kearahnya. Wajah itu semakin lama semakin jelas. Yaa itu Robi. Pria tertampan
yang ada dikelasnya. Bukan Cuma tampan tapi Robi adalah pria yang pintar.
Tiba-tiba suara Robi memecah suasana.
“Bu Sonya udah dateng ya?” Kata Robi dengan cuek
(Mona hanya mengangguk)
“Aduh lo cuek banget sih Rob lo cuek banget sama gua” Kata Mona
dalam hati
“Lo telat juga Mon?” Kata Robi dengan dinginnya
“Iya telat nih.
Rob lo bisa ajarin gua Mtk gak nomer 2 gua gak ngerti caranya” Kata Mona dengan
gugup
“Waktu itu lo
kemana? Lo gak ngeliat guru nerangin? Udah gua sibuk gua mau belajar” Kata Robi
dengan ketus
“Addddduuuhhh Robi
sumpah demi apapun gua benci lo, tapi gua suka lo Rob” Kata Mona dalam hati
Akhirnya pelajaran Bu Sonya pun selesai. Mona dan Robi pun masuk
kedalam kelas. Mereka sangat serius mengikuti pelajaran. Sungguh Robi saat itu
sangat ketus. Sangat membuat hati Mona terluka. Tak disangka bel pulang pun
berbunyi. Hujan turun dengan derasnya, Mona bingung bagaimana ia bisa pulang.
Saat hujan mulai reda Mona berjalan dengan santainya. Mona tak melihat jika ada
saluran air didepannya. Dan alhasil Mona terjatuh. Mona hanya bisa menahan rasa
sakitnya. Tak lama Robi datang menghampirinya
“Lo baik-baik aja
Mon? Lo kenapa bisa jatoh? Punya mata kok gak dipake! Bisa jalan gak? Sini gua
bantu kalo gak bisa jalan” Kata Robi dengan nada suara yang dingin
“Gua baik-baik aja
kok. Gua bisa sendiri” Kata Mona dengan ketus
“Ohh, yaudah kalo
bisa sendiri. Coba sekarang berdiri” Kata Robi menyindir
“Iya gua berdiri,
liat nih” Kata Mona dengan lantang
(Saat hendak
berdiri Mona terjatuh lagi)
“Hadooh, bilang
aja kali kalo gak bisa berdiri mah, jangan bilang bisa kalo kenyataanya mah gak
bisa. Udah sini gua bantu gua anter sampai rumah” Kata Robi
“Lo serius?” Kata
Mona dengan bingung
“Iya gua serius”
Kata Robi sambil membopong Mona menuju motornya
Saat itu Robi sangat perhatian kepada Mona. Sungguh bahagianya
hati Mona saat itu. Mona tak menyangka, di balik sikap Robi yang dingin ada
juga sikap yang ramah dan baik kepada seseorang. Mona sangat bahagia saat itu.
Meskipun tadi sedikit kesal dengan sikap Robi, tapi kini semua terbayarkan.
Akhirnya Mona mengajak Robi berbicara.
“Robi gua boleh nanya?” Kata Mona pelan
“Kamu mau nanya apa? Ehh salah maksud gua, lo mau nanya apa?”
Kata Robi gugup
“Aku mau nanya, kamu kok tadi jutek banget ya sama aku?” Kata
Mona
“Aku lagi serius
belajar, yaa gitu lah kalo aku sibuk dengan duniaku, aku males diganggu” Kata
Robi
“Hmmm, sekarang
kita bisa jadi sahabat?” Kata Mona ragu
“Iyaa terserah
kamu aja Mon” Kata Robi dengan dengan datar
Sungguh tak menyangka Mona saat itu. Roby yang ia kenal judes
kini terlihat lain. Seminggu mereka lalui bersama. Tawa, canda, tangis, dan
sedih pun mereka lalui bersama. Perasaan Mona semakin hari semakin bertambah.
Mona ingin mengungkapkan kepada Robi kalau Mona saat itu mempunyai rasa yang
lebih. Lebih dari seorang sahabat.
Tak terasa hampir tiga minggu mereka bersama-sama. Tapi tepat
tiga minggu mereka bersama Robi berubah kembali, kembali seperti awal. Sungguh
Mona bingung akan perubahan yang dilakukan oleh Robi. Mona berusaha mencari
tahu akan perubahan Robi saat itu. Mona pergi ke rumah Robi. Dengan mata kepala
sendiri Mona melihat Robi keluar dari rumahnya dengan wanita yang sangat
cantik. Sungguh hati Mona begitu terpukul.
Mona sangat sedih dan terluka saat itu. Ternyata Robi sudah
mempunyai kekasih sehingga berubah sifat kembali. Saat sesampainya di sekolah
Mona tak menduga Robi menghampirinya dengan berkata
“Sebaiknya lo jauhin
gua, lo tinggalin gua, gua gak pantes buat lo. Lo pantes dengan yang lebih
baik. Gua harap lo lupain gua lupain semua tentang gua” Kata Robi dengan ketus
lalu pergi meninggalkan Mona
Sungguh hancur hati mona saat itu Robi yang ia sayang ternyata
seperti itu. Ingin rasanya Mona berteriak dan marah. Tapi ia sadar ia bukan
siapa-siapa Robi dan mungkin memang ini jawaban atas doanya selama ini. Jika
Robi bukan pria yang pantas untuk dirinya
Sudah hampir empat minggu Robi tidak masuk sekolah. Mona sangat
bingung dengan Robi. Mona merasa ada yang disembunyikan oleh Robi. Mona merasa
cemas dengan keadaan Robi. Saat ingin berjalan ke kantin Mona mendengar
sahabatnya Robi membicarakan jika Robi sedang dirawat di rumah sakit. Sungguh
Mona langsung terpukul saat itu.
Saat pulang sekolah Mona langsung pergi menuju rumah sakit. Ia
langsung berlari menuju ruangan Robi. Sunguh kaget Mona melihat keadaan Robi
saat itu. Robi yang dulu sangat gagah kini terbaring lemas dengan tabung
oksigen. Mona ingin menangis tapi berusaha ia tahan. Langkah kakinya sangat
berat buat mendekati Robi. Robi sangat kaget dengan kedatangan Mona. Dan Mona
hanya bisa tersenyum saat Robi menegok kearahnya. Robi mengucapkan sepatah kata
kepada Mona sambil memagang tangan Mona
“Kamu ngapain kesini? Tau dari mana aku disini?” Kata Robi
sedih
“Kamu jahat Rob kamu jahat kamu jahat” Kata Mona sambil
menangis
“Aku emang jahat
Mona, makannya aku minta kamu lupain aku. Aku mohon kamu jangan nangis Mona.
Air mata kamu gak pantes buat aku” Kata Robi sambil mengapus air mata Mona
“Kamu sakit apa
Rob, kenapa kamu gini Rob?” Kata Mona dengan sedih
“Aku kena kanker
otak Mon, aku mohon ikhlasin aku ya. Aku kaya gini biar aku bisa ngelupain kamu
Mon, biar aku buang perasaan aku ke kamu secara perlahan Mon. Aku mau kamu
benci sama aku Mon. Aku sayang sama kamu Mon, sayang banget sama kamu. Rasa itu
tumbuh sejak lama Mona, tapi aku gak bisa ungkapin karena aku cuma bisa
nyusahin kamu. Aku pengen kamu bahagia Mona. Aku sayang kamu Mona, aku ingin
jadi pendamping kamu di Surga nanti Mon. Jangan tangisin aku ya Mona. Aku
sayang kamu aku ingin kamu tersenyum meskipun tanpa aku” Kata Robi dengan
tersenyum lalu menutup matanya untuk selama-lamanya
Mona sangat sedih saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan
oleh Robi. Ingin rasanya tak menangis, tapi apa daya rasa kehilangan orang yang
disayang mengalahkan semuanya. Mona begitu terpukul akan kepergian orang yang
ia sayang. Dan ia berkata dalam hati “Cinta aku ke kamu tidak akan pernah putus
meskipun raga kamu gak ada disamping aku, tapi jiwa kamu selalu ada dihati aku
sampai jiwa ini bertemu nanti disurga”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar