Senin, 02 Juli 2012

MUNGKIN YANG TERBAIK Part3


4 BULAN KEMUDIAN
      Hubungan Zahra dan Jhonatan terjadi selama 4 bulan. Mereka sangat menikmati masa-masa mereka berpacaran. Entah kenapa mereka merasakan kenyamanan yang sangat mendalam. Zahra selalu ditemani oleh Jhonata saat Zahra pergi. Tapi terkadang Jhonatan hanya mengantarkan Zahra saat Zahra kuliah, karena kesibukan Jhonatan di kantornya. Zahra sangat mengerti kesibukan Jhonatan, dan begitu pula sebaliknya Jhonatan juga mengerti keadaan Zahra.
      Saat itu pagi hari, dengan matahari yang sangat terik. Zahra sedang berada dikantin menikmati segelas jus jeruk yang telah ia pesan. Saat sedang menikmati jes jeruk yang ia pesan, Hpnya berdering dan ia buru-buru melihatnya. Ternyata pesan tersebut dari Geby yang menanyakan keberadaannya dimana. Dan buru-buru Zahra membalasnya. Tak lama Geby datang menghampirinya dan memberikan kabar buruk kepada Zahra. Geby memberi tuhukan kabar tersebut dengan menangis, dan membuat Zahra menjadi merasa bersalah.
            “Zaaaahhhhhhhhrrrrraaaaa” Kata Geby sambil menangis
            “Kenapa Geby? Kok kamu nangis?” Tanya Zahra sambil memeluk Geby
            “Zahra aku, aku, aku……” Kata Geby terbata-bata
            “Iya kamu kenapa Ra?” Tanya Zahra sambil menenangkan Geby
            “Aku putus Ra sama Kevin, aaaaaa Zahra aku masih sayang sama Kevin” Kata Geby sambil memeluk Zahra
            “Loh kok bisa sih Geby kamu putus? Apa alasannya kamu putus sama Kevin?” Tanya Zahra
            “Aku.. Aku.. Aku juga gak tau Ra masalahnya apa, tiba-tiba dia bilang putus ke aku Ra, Aaaaaa Zahra masih gak rela buat putus” Kata Geby
            “Udah ahhh jangan nagis lagi Gebynya. Geby harus rela buat ngelepas Kevin. Aku tau kok emang berat buat lupain Kevin bagi kamu Geby, apa lagi kamu udah 2 tahun pacaran sama dia. Tapi perlahan kamu pasti bisa kok lupain Kevin. Geby yang sabar ya, inget aja ada KARMA kok yang bales” Kata Zahra sambil menghapus air mata Geby
      Setelah kejadian itu Zahra menjadi merasa bersalah kepada Geby. Baru pertama kali ia melihat Geby sedih seperti ini. Zahra sangat tak tega dengan keadaan Geby saat ini. Zahra mengerti keadaan Geby saat ini, tapi saat ini Zahra bingung harus berbuat apa. Zahra saat itu benar-benar bingung dengan apa yang harus ia perbuat saat itu. Zahra ingin membuat Geby tersenyum dan akhirnya Zahra mengajak Geby untuk pergi ke café milik Jhonatan. Kebetulan ia tidak sedang bertugas untuk bernyanyi, oleh karna itulah Zahra bisa puas menemani Geby.
      Sore harinya Zahra menjumput Geby dirumahnya dan mengajaknya jalan-jalan. Dan setelah Geby siap, mereka berdua langsung menuju ke café. Di dalam mobil Geby hanya menundukan kepala dan menangis. Zahra sangat prihatin dengan keadaan Geby yang sekarang. Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat keadaan Geby. Dan saat berada di parkiran café, Zahra turun terlebih dahulu dari mobil lalu masuk kedalam café untuk berbicara sebentar dengan Jhonatan. Dan Jhonatan mengiyakan keinginan kekasihnya itu.
      Dan setelah berbicara dengan Jhonatan Zahra keluar dari café dan mengajak Geby untuk keluar dari mobil, dan mengajaknya kedalam café untuk makan malam. Geby pun menuruti keinginan Zahra. Dan saat mereka berdua terlah duduk dimeja yang Zahra pesan. Dan saat mereka sedang duduk mata Zahra melihat menu makanan, sedangkan mata Geby tertuju pada sosok pria tampan yang sedang berdiri berbicara dengan Kariyawannya. Geby pun bertanya kepada Zahra. Dan Zahra pun mengenalkannya kepada Geby
            “Geby ini Jhonatan, Jhonatan ini Geby” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Geby” Kata Geby sambil tersenyum
            “Jhonatan, panggil aja saya Jo” Kata Jhonatan sambil tersenyum
            “Ohhh iya salam kenal ya Jo” Kata Geby sambil tersenyum
            “Ohh iya salam kenal juga ya, ohh iya saya harus balik kerja dulu” Kata Jhonatan
      Setelah Geby dan Jhonatan berkenalan, raut wajah Geby menjadi berubah, yang tadinya cemberut, kesal, sedih, kini menjadi raut wajah yang begitu bahagia. Zahra merasa bahagia sahabatnya kembali tersenyum. Dan sebetulnya dari sinilah masalah baru muncul yang mengakibatkan masalah yang sangat besar……
2 minggu kemudian
      Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari pun berganti minggu, minggu perminggu di bulan ini terasa amat berat bagi Zahra. Cobaan didalam hubungannya terasa amat sangat berat. Jhonatan 2minggu ini tidak ada kabar, dan sekalinya ada kabar hanya menanyakan kabar Zahra, dan setelah tau kabar Zahra Jhonatan pun tak ada kabar lagi. Sungguh sepi hari-hari Zahra 2 minggu ini. Jhonatan tak pernah menemaninya lagi. Zahra sagat merasakan perubahan di dalam diri Jhonatan.
      Malam harinya Zahra mengurung diri dikamar. Ia menunggu kabar dari Jhonatan yang tak kunjung datang menghampirinya. Zahra sangat khawatir dengan Jhonatan. Jhonatan kini berubah entah apa yang membuat Jhonatan berubah seperti ini. Zahra pun bingung harus berbuat dan bertindak apa. Dan akhirnya ia mengambil buku diarynya dan bercerita…
      Setelah menulis diary Zahra terlelap tidur dan terbangun tepat jam 12 malam. Ia langsung melihat Hpnya dan tetap tidak ada pesan dari Jhonatan. Sungguh Zahra merasakan hal yang aneh terhadap Jhonatan, tapi ia juga merasa aneh terhadap Geby yang selalu menjauh dari dirinya 2 minggu ini. Zahra merasa curiga dengan mereka berdua, tapi ia tetap berfikiran yang positif agar tak ada yang salah sangka.
      Esok harinya Zahra ke café milik Jhonatan, dan saat sampai disana tak ada sosok Jhonatan disana, dan akhirnya Zahra bertanya kepada teman dekat Jhonatan yang kebetulan ada disana, tapi temannya tersebut juga tak tau Jhonatan dimana. Zahra mencoba menelpon Jhonatan tapi telpon Zahra dimatikan oleh Jhonatan. Zahra merasakan sangat kecewa dengan sikap Jhonatan yang sangat dingin kepadanya. Dan tiba-tiba seorang kariyawan menghampirinya.
            “Misi mbak, mbak itu bukannya pacarnya Pak Jo ya?” Tanya kariyawan tersebut
            “Iya saya pacarnya Pak Jo, kenpa?” Kata Zahra sambil tersenyu
            “Tapi mbak jangan bilang kalo saya ya yang ngasih tau keberadaannya Pak Jo, tadi saya denger pembicaraan Pak Jo mbak dari cewe, dia lagi janjian mbak di restaurant deket taman kota, dan orang itu kayanya temennya mbak deh yang waktu itu dateng berdua sama mbak makan disini, soalnya 2 minggu ini Pak Jo sering jalan sama cewe itu. Maaf ya mbak saya bilang kaya gini, soalnya saya kasian sama mbak, terus saya mau cerita tapi mbak udah jarang nyanyi disini” Kata kariyawan tersebut
            “Iya gak apa-apa kok saya juga gak bakal bilang sama Pak Jo, makasih ya udah kasih tau saya keberadaan Pak Jo dan semuanya, makasih banget saya sama kamu, gak bakal saya lupain kebaikan kamu, saya pergi duluan ya, sekali lagi makasih loh” Kata Zahra sambil tersenyum menahan tangis
      Setelah tau keberadaan Jhonatan Zahra langsung pergi menuju restaurant yang disampaikan kariyawan tersebut. Zahra mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, ia ingin cepat-cepat sampai di restaurant tersebut. Zahra ingin sekali sampai disana dengan tepat waktu. Zahra hamper menangis didalam mobil, tapi ia tetap berpikiran kalau tidak terjadi apa-apa. Setelah sampai Zahra langsung menuju area parkir, untuk memparkir mobilnya.
      Setelah itu Zahra langusung berlari menuju restaurant. Saat didalam restaurant Zahra terhentak, melihat tingkah Jhonatan dan Geby bermesraan. Zahra hanya terdiam saat itu, ia langsung mengambil Hpnya untuk mengambil foto kemesraan Jhonatan dan Geby. Sungguh hati Zahra sangat sakit dengan perbuatan 2 orang yang ia sayangi tersebut. Setelah berhasil mengambil foto mereka Zahra langsung keluar menuju area parkir, setelah itu ia langsung mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.
      Setelah sampai dirumah ia langsung berlari menuju kamarnya. Zahra langsung mengunci pintu kamarnya. Zahra pun menangis setelah menahan air matanya sedari tadi. Sungguh sakit hati Zahra dengan sikap yang ditunjukan Geby dan Jhonatan. Sungguh Zahra tak menyangka ini semua terjadi kepada dirinya. Zahra hanya bisa menangis untuk saat itu. Zahra sungguh sakit hati dan hanya bisa menangisi semua yang telah terjadi. Zahra langsung mengambil buku diarynya dan menulis sesuatu didalamnya.
      Setelah menulis diary, Zahra pun kembali terdiam, kembali termenung, kembali bersedih. Zahra sangat sakit hati kepada Geby dan Jhonatan. Zahra tak menyangka ini semua akan terjadi sungguh sakit hati Zahra. Semalaman Zahra hanya menangis dan tak pernah keluar dari kamar. Zahra satu hari ini tidak pernah keluar dari kamar. Ia hanya mengurung diri dikamar. Dan Zahra keluar kamar jika ia ingin berangkat kuliah sehabis itu ia langsung mengunci diri dikamar.
3 MINGGU BERIKUTNYA
      3 minggu berlalu, Zahra menjadi orang yang sangat tertutup, dingin, dan jutek. Zahra sangat menutup diri dari orang lain saat itu. Zahra hanya bicara seperlunya dan sehabis itu ia kembali terdiam membisu. Zahra masih merasakan kekecewaan yang amat mendalam dalam dirinya. Zahra masih tak menyangka apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
      Saat berada dikantin kampus ia dihampiri oleh Geby. Zahra hanya memberikan senyum simpul kepada Geby. Geby pun merasa aneh dan mencoba bertanya kepada Zahra, tapi Zahra hanya terdiam. Zahra hanya terdiam dan bersikap dingin. Geby merasa aneh dengan perubahan sikap Zahra yang sangat derastis seperti ini. Geby merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Zahra saai tu. Geby akhirnya memulai pembicaraan kepada Zahra.
            “Zahra kamu kenapa?” Tanya Geby
            “Hah? Gua baik-baik aja kok” Kata Zahra dengan dingin
            “Kok kamu gini sih Ra?” Tanya Geby lagi
            “Gini gimana? Gua biasa aja kali” Kata Zahra dengan sangat dingin
            “Aku kaya ngerasa beda sama kamu Ra” Keluh Geby
            “Udah ngomongnya? Kalo udah gua mau pergi nih!” Kata Zahra dingin
            “Ra kamu kenapa jujur Ra?” Tanya Geby
            “Cepat atau lambat lu tau kenapa gua gini” Kata Zahra dengan dingin lalu pergi
      Setelah meninggalkan Geby sendirian dikantin, Zahra berlari menuju taman kampus. Ia kembali menyendiri di taman tersebut, terdiam tanpa melakukan apapun. Zahra duduk memandang danau yang indah. Zahra menangis ditaman tersebut. Sungguh hati Zahra masih sakit jika melihat wajah Geby. Dulu ia sangat sayang kepada Geby, tapi semenjak kejadian itu rasa sayang sebagai sahabat lama kelamaan makin memudar.
      Setelah menenangkan diri Zahra menelpon adiknya. Setelah berbicara panjang lebar lewat telpon akhirnya Zahra mengajak adiknya ketemuan. Roby akhirnya menjemput Zahra dikampus. Roby merasa kasihan melihat keadaan kakaknya yang sekarang, sungguh Roby tak tega, tapi ia tak tau harus berbuat apa. Roby hanya terdiam saat didalam mobil. Zahra pun tertunduk sambil menangis. Sungguh banyangan itu masih ada. Bayangan Geby dan Jhonatan bermesraan. Zahra mengajak adiknya ke restaurant yang sering mereka kunjungi.
      Setelah sampai Zahra langsung turun dari mobil dan masuk kedalam restaurant tersebut. Zahra memilih meja paling pojok dan mendapatkan pemandangan yang romantis. Sungguh tak disangka oleh Roby setelah memilih meja dan duduk kakaknya kembali meneteskan air mata. Tak lama Zahra pun menghapus air matanya dan lalu memesan makanan. Dan saat menunggu makanan yang mereka pesan siap Zahra mulai berbicara.
            “De gua jahat ya?” Tanya Zahra sambil menunduk
            “Lah lu kenapa kak tiba-tiba ngomong gitu?” Kata Roby bingung
            “Gak de, gua ngerasa gua dapet karma sekarang!” Kata Zahra sedih
            “Lah kenapa kak? Lu jarang cerita lagi sama gua, mana gua tau kaka pa masalah lu? Gua Cuma baca doang dari tweet tweet lu yang galau, tapi lu setiap gua tanya kenapa pasti lu jawab gak apa-apa, kak cerita sama gua” Kata Roby
            “Lu tau Jhonatan kan de? Cowo gua? Lu tau kan, dia selingkuhin gua de, dan selingkuhnya itu sama Geby de” Kata Zahra sambil menangis
            “Kak jadi lu diselingkuhin? Lu yakin?” Tanya Roby kaget
            “Yakin de, lu liat aja di hp gua, terus lu buka galeri dan lu liat disitu ada foto Jo sama Geby” Kata Zahra sambil menangis
            “Kakak sabar ya, jangan nangis terus gua gak tega kak liat lu begini, kakak yang kuat ya ini cobaan kak buat lu, dan ini pelajaran buat lu. Lu ngerasain kak jadi Geby meskipun Geby gak pernah sadar perlakuan lu sama dia kak, kak gua ngerti kok kaka pa yang lu rasain, tapi lu juga jangan nangis terus kak, lu jangan dingin sama orang disekitar lu” Kata Roby sambil memeluk Zahra
            “Tapi de, gua gak pernah ngambil cowonya Geby sama kaya gini de, lu bayangin dong perasaan gua sakit de sakit. Gua tau gua salah tapi kan juga jangan Jo de” Kata Zahra sambil menangis dibahu adiknya
            “Yang sabar ya kak ini cobaan buat lu, lu harus tegar kak, lu harus kuat jangan lemah, lu pasti bisa kok kak tersenyum meskipun hati lu menangis. Kakak yang gua kenal gak kaya gini kak, Kakak yang gua kenal tegar, sabar, bijak, gak pernah bersikap dingin kak, gua maul u berubah kaya dulu.” Kata Roby sambil menghapus air mata Zahra
      Tak lama makanan yang mereka pesan sudah siap untuk disantap. Dan akhirnya mereka menyantap makanan yang telah mereka pesan. Roby masih melihat air mata mengalir dari ke dua mata kakaknya. Sungguh baru kali ini Roby melihat kakaknya menangis dan sedih seperti ini. Roby ingin melihat kakaknya kembali tersenyum seperti dahulu, penuh canda dan tawa, bukan penuh kesedihan seperti ini.
      Setelah menyantap makanan mereka, mereka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju rumah, lagi-lagi Zahra tertunduk sambil menangis. Roby pun bingung harus berbuat apa, ia tak bisa banyak berbicara. Setelah sampai dirumah Zahra langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya. Zahra berpikir dan memutuskan mengundurkan diri dari café milik Jhonatan. Ia tak sanggup melihat wajah Jhonatan lagi. Luka hatinya masih sulit untuk diobati.
      Pagi harinya Zahra kuliah seperti biasa. Setiap ada Geby Zahra selalu menghindar ia tak ingin luka hatinya lama sembuh dan selamanya akan membenci Geby, ia tak ingin perpecahan menimpa persahabatan yang telah mereka jalin selama mereka masih kecil. Zahra akan mengalah demi kebahagiaan Geby, meskipun itu merenggut kebahagiaannya. Zahra akan mencoba mengikhlaskan semuanya demi persahabatan.
      Sore harinya Zahra pergi ke café untuk mengundurkan diri. Dan ternyata disitu ada Jhonatan. Zahra masih bersikap dingin kepada kekasihnya. Zahra sangat sakit melihat senyum yang terpancar dari wajah Jhonatan. Mata Zahra tetap tertuju kedepan tanpa menghiraukan Jhonatan yang berada disampingnya.
            “Maaf Pak Dandi, saya mau mengundurkan diri dari café ini” Kata Zahra
            “Kamu serius Zahra?” Tanya Pak Dandi
            “Saya serius Pak, saya akan tampil disini besok sore abis itu saya tidak akan pernah tampil disini lagi Pak. Maaf Pak selama saya bekerja disini saya kurang memuaskan Bapak” Kata Zahra
            “Jujur saya sangat kecewa dengan keputusan kamu yang mengundurkan diri, tapi itu hak kamu Ra, kamu berhak untuk mengundurkan diri kapan saja. Saya sangat puas dengan kinerja kamu saat ini Ra” Kata Pak Dandi
      Setelah mengundurkan diri Zahra meminta izin untuk pulang. Tapi Pak Dandi menyuruhnya menunggu sebentar. Pak Dandi berjalan menuju ruangannya, dan mengambil sebuah gitar kesayangannya. Lalu Pak Dandi memberikannya kepada Zahra yang telah berjasa untuk kemajuan café tersebut. Zahra terharu dengan perbuatan Pak Dandi, setalah itu ia langsung mengucapkan terima kasih dan lalu pergi. Saat ingin berjalan keluar ternyata ia dijegat oleh Jhonatan.
            “Ra aku mau ngomong” Kata Jhonatan sambil memegang tangan Zahra
            “Gak ada yang harus diomongin lagi” Kata Zahra sambil melepas tangan Jhonatan lalu pergi
      Setelah itu Zahra langsung berlari menuju mobilnya dan pergi pulang. Diperjalanan Zahra hanya bisa terdiam dan termenung. Ia benar-benar muak dengan semuanya. Zahra ingin cepat-cepat hari esok agar ia terlepas dari baying-bayang Jhonatan. Zahra sangat terluka dengan semuanya. Saat itu Zahra kembali menagis didalam mobilnya. Entah kenapa dia sangat rapuh, ia merasa jika ia yang sekarang buka ia yang dulu. Zahra sangat merasakan perbedaan itu.
      Saat setelah sampai dirumah, Zahra hanya bisa terdiam dan menatap langit dari balkon kamarnya. Lagi-lagi ia menangis dan berkata dalam hati “JIK A MEMANG AKU HARUS HANCUR DEMI KEBAHAGIAN SAHABATKU, AKU RELA HARUS HANCUR DEMI PERSAHABATANKU, DAN SEMOGA JALAN INI JALAN YANG TERBAIK UNTUK AKU, KAMU, DAN DIA. SEMOGA KALIAN BAHAGIA AKU AKAN TERSENYUM BUAT KALIAN MESKIPUN HATIKU MENANGIS DAN MENJERIT PERIH, TAPI SEMUA ITU AKAN KU TAHAN KARENA AKU TAK PERNAH SENDIRI MENGHADAPI SEMUA MASALAH INI”
BERSAMBUNG…………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar