4 BULAN KEMUDIAN
Hubungan
Zahra dan Jhonatan terjadi selama 4 bulan. Mereka sangat menikmati masa-masa
mereka berpacaran. Entah kenapa mereka merasakan kenyamanan yang sangat
mendalam. Zahra selalu ditemani oleh Jhonata saat Zahra pergi. Tapi terkadang
Jhonatan hanya mengantarkan Zahra saat Zahra kuliah, karena kesibukan Jhonatan
di kantornya. Zahra sangat mengerti kesibukan Jhonatan, dan begitu pula
sebaliknya Jhonatan juga mengerti keadaan Zahra.
Saat
itu pagi hari, dengan matahari yang sangat terik. Zahra sedang berada dikantin
menikmati segelas jus jeruk yang telah ia pesan. Saat sedang menikmati jes
jeruk yang ia pesan, Hpnya berdering dan ia buru-buru melihatnya. Ternyata
pesan tersebut dari Geby yang menanyakan keberadaannya dimana. Dan buru-buru
Zahra membalasnya. Tak lama Geby datang menghampirinya dan memberikan kabar
buruk kepada Zahra. Geby memberi tuhukan kabar tersebut dengan menangis, dan
membuat Zahra menjadi merasa bersalah.
“Zaaaahhhhhhhhrrrrraaaaa”
Kata Geby sambil menangis
“Kenapa
Geby? Kok kamu nangis?” Tanya Zahra sambil memeluk Geby
“Zahra
aku, aku, aku……” Kata Geby terbata-bata
“Iya
kamu kenapa Ra?” Tanya Zahra sambil menenangkan Geby
“Aku putus Ra
sama Kevin, aaaaaa Zahra aku masih sayang sama Kevin” Kata Geby sambil memeluk
Zahra
“Loh kok bisa sih
Geby kamu putus? Apa alasannya kamu putus sama Kevin?” Tanya Zahra
“Aku.. Aku.. Aku
juga gak tau Ra masalahnya apa, tiba-tiba dia bilang putus ke aku Ra, Aaaaaa
Zahra masih gak rela buat putus” Kata Geby
“Udah ahhh jangan
nagis lagi Gebynya. Geby harus rela buat ngelepas Kevin. Aku tau kok emang
berat buat lupain Kevin bagi kamu Geby, apa lagi kamu udah 2 tahun pacaran sama
dia. Tapi perlahan kamu pasti bisa kok lupain Kevin. Geby yang sabar ya, inget
aja ada KARMA kok yang bales” Kata Zahra sambil menghapus air mata Geby
Setelah
kejadian itu Zahra menjadi merasa bersalah kepada Geby. Baru pertama kali ia
melihat Geby sedih seperti ini. Zahra sangat tak tega dengan keadaan Geby saat
ini. Zahra mengerti keadaan Geby saat ini, tapi saat ini Zahra bingung harus
berbuat apa. Zahra saat itu benar-benar bingung dengan apa yang harus ia
perbuat saat itu. Zahra ingin membuat Geby tersenyum dan akhirnya Zahra
mengajak Geby untuk pergi ke café milik Jhonatan. Kebetulan ia tidak sedang
bertugas untuk bernyanyi, oleh karna itulah Zahra bisa puas menemani Geby.
Sore
harinya Zahra menjumput Geby dirumahnya dan mengajaknya jalan-jalan. Dan
setelah Geby siap, mereka berdua langsung menuju ke café. Di dalam mobil Geby
hanya menundukan kepala dan menangis. Zahra sangat prihatin dengan keadaan Geby
yang sekarang. Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat keadaan
Geby. Dan saat berada di parkiran café, Zahra turun terlebih dahulu dari mobil
lalu masuk kedalam café untuk berbicara sebentar dengan Jhonatan. Dan Jhonatan
mengiyakan keinginan kekasihnya itu.
Dan
setelah berbicara dengan Jhonatan Zahra keluar dari café dan mengajak Geby
untuk keluar dari mobil, dan mengajaknya kedalam café untuk makan malam. Geby
pun menuruti keinginan Zahra. Dan saat mereka berdua terlah duduk dimeja yang
Zahra pesan. Dan saat mereka sedang duduk mata Zahra melihat menu makanan,
sedangkan mata Geby tertuju pada sosok pria tampan yang sedang berdiri
berbicara dengan Kariyawannya. Geby pun bertanya kepada Zahra. Dan Zahra pun
mengenalkannya kepada Geby
“Geby
ini Jhonatan, Jhonatan ini Geby” Kata Zahra sambil tersenyum
“Geby”
Kata Geby sambil tersenyum
“Jhonatan,
panggil aja saya Jo” Kata Jhonatan sambil tersenyum
“Ohhh
iya salam kenal ya Jo” Kata Geby sambil tersenyum
“Ohh
iya salam kenal juga ya, ohh iya saya harus balik kerja dulu” Kata Jhonatan
Setelah
Geby dan Jhonatan berkenalan, raut wajah Geby menjadi berubah, yang tadinya
cemberut, kesal, sedih, kini menjadi raut wajah yang begitu bahagia. Zahra
merasa bahagia sahabatnya kembali tersenyum. Dan sebetulnya dari sinilah
masalah baru muncul yang mengakibatkan masalah yang sangat besar……
2 minggu kemudian
Detik
berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari pun berganti
minggu, minggu perminggu di bulan ini terasa amat berat bagi Zahra. Cobaan
didalam hubungannya terasa amat sangat berat. Jhonatan 2minggu ini tidak ada
kabar, dan sekalinya ada kabar hanya menanyakan kabar Zahra, dan setelah tau kabar
Zahra Jhonatan pun tak ada kabar lagi. Sungguh sepi hari-hari Zahra 2 minggu
ini. Jhonatan tak pernah menemaninya lagi. Zahra sagat merasakan perubahan di
dalam diri Jhonatan.
Malam
harinya Zahra mengurung diri dikamar. Ia menunggu kabar dari Jhonatan yang tak
kunjung datang menghampirinya. Zahra sangat khawatir dengan Jhonatan. Jhonatan
kini berubah entah apa yang membuat Jhonatan berubah seperti ini. Zahra pun
bingung harus berbuat dan bertindak apa. Dan akhirnya ia mengambil buku
diarynya dan bercerita…
Setelah
menulis diary Zahra terlelap tidur dan terbangun tepat jam 12 malam. Ia
langsung melihat Hpnya dan tetap tidak ada pesan dari Jhonatan. Sungguh Zahra
merasakan hal yang aneh terhadap Jhonatan, tapi ia juga merasa aneh terhadap
Geby yang selalu menjauh dari dirinya 2 minggu ini. Zahra merasa curiga dengan
mereka berdua, tapi ia tetap berfikiran yang positif agar tak ada yang salah
sangka.
Esok
harinya Zahra ke café milik Jhonatan, dan saat sampai disana tak ada sosok
Jhonatan disana, dan akhirnya Zahra bertanya kepada teman dekat Jhonatan yang
kebetulan ada disana, tapi temannya tersebut juga tak tau Jhonatan dimana.
Zahra mencoba menelpon Jhonatan tapi telpon Zahra dimatikan oleh Jhonatan.
Zahra merasakan sangat kecewa dengan sikap Jhonatan yang sangat dingin
kepadanya. Dan tiba-tiba seorang kariyawan menghampirinya.
“Misi
mbak, mbak itu bukannya pacarnya Pak Jo ya?” Tanya kariyawan tersebut
“Iya
saya pacarnya Pak Jo, kenpa?” Kata Zahra sambil tersenyu
“Tapi mbak jangan
bilang kalo saya ya yang ngasih tau keberadaannya Pak Jo, tadi saya denger
pembicaraan Pak Jo mbak dari cewe, dia lagi janjian mbak di restaurant deket
taman kota, dan orang itu kayanya temennya mbak deh yang waktu itu dateng
berdua sama mbak makan disini, soalnya 2 minggu ini Pak Jo sering jalan sama
cewe itu. Maaf ya mbak saya bilang kaya gini, soalnya saya kasian sama mbak,
terus saya mau cerita tapi mbak udah jarang nyanyi disini” Kata kariyawan
tersebut
“Iya gak apa-apa
kok saya juga gak bakal bilang sama Pak Jo, makasih ya udah kasih tau saya
keberadaan Pak Jo dan semuanya, makasih banget saya sama kamu, gak bakal saya
lupain kebaikan kamu, saya pergi duluan ya, sekali lagi makasih loh” Kata Zahra
sambil tersenyum menahan tangis
Setelah
tau keberadaan Jhonatan Zahra langsung pergi menuju restaurant yang disampaikan
kariyawan tersebut. Zahra mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, ia ingin
cepat-cepat sampai di restaurant tersebut. Zahra ingin sekali sampai disana
dengan tepat waktu. Zahra hamper menangis didalam mobil, tapi ia tetap
berpikiran kalau tidak terjadi apa-apa. Setelah sampai Zahra langsung menuju
area parkir, untuk memparkir mobilnya.
Setelah
itu Zahra langusung berlari menuju restaurant. Saat didalam restaurant Zahra
terhentak, melihat tingkah Jhonatan dan Geby bermesraan. Zahra hanya terdiam
saat itu, ia langsung mengambil Hpnya untuk mengambil foto kemesraan Jhonatan
dan Geby. Sungguh hati Zahra sangat sakit dengan perbuatan 2 orang yang ia
sayangi tersebut. Setelah berhasil mengambil foto mereka Zahra langsung keluar
menuju area parkir, setelah itu ia langsung mengendarai mobilnya dengan sangat
cepat.
Setelah
sampai dirumah ia langsung berlari menuju kamarnya. Zahra langsung mengunci
pintu kamarnya. Zahra pun menangis setelah menahan air matanya sedari tadi.
Sungguh sakit hati Zahra dengan sikap yang ditunjukan Geby dan Jhonatan.
Sungguh Zahra tak menyangka ini semua terjadi kepada dirinya. Zahra hanya bisa
menangis untuk saat itu. Zahra sungguh sakit hati dan hanya bisa menangisi
semua yang telah terjadi. Zahra langsung mengambil buku diarynya dan menulis
sesuatu didalamnya.
Setelah
menulis diary, Zahra pun kembali terdiam, kembali termenung, kembali bersedih.
Zahra sangat sakit hati kepada Geby dan Jhonatan. Zahra tak menyangka ini semua
akan terjadi sungguh sakit hati Zahra. Semalaman Zahra hanya menangis dan tak
pernah keluar dari kamar. Zahra satu hari ini tidak pernah keluar dari kamar.
Ia hanya mengurung diri dikamar. Dan Zahra keluar kamar jika ia ingin berangkat
kuliah sehabis itu ia langsung mengunci diri dikamar.
3 MINGGU
BERIKUTNYA
3
minggu berlalu, Zahra menjadi orang yang sangat tertutup, dingin, dan jutek.
Zahra sangat menutup diri dari orang lain saat itu. Zahra hanya bicara
seperlunya dan sehabis itu ia kembali terdiam membisu. Zahra masih merasakan
kekecewaan yang amat mendalam dalam dirinya. Zahra masih tak menyangka apa yang
terjadi pada dirinya saat ini.
Saat
berada dikantin kampus ia dihampiri oleh Geby. Zahra hanya memberikan senyum
simpul kepada Geby. Geby pun merasa aneh dan mencoba bertanya kepada Zahra,
tapi Zahra hanya terdiam. Zahra hanya terdiam dan bersikap dingin. Geby merasa
aneh dengan perubahan sikap Zahra yang sangat derastis seperti ini. Geby merasa
ada yang aneh dengan perubahan sikap Zahra saai tu. Geby akhirnya memulai
pembicaraan kepada Zahra.
“Zahra
kamu kenapa?” Tanya Geby
“Hah?
Gua baik-baik aja kok” Kata Zahra dengan dingin
“Kok
kamu gini sih Ra?” Tanya Geby lagi
“Gini
gimana? Gua biasa aja kali” Kata Zahra dengan sangat dingin
“Aku
kaya ngerasa beda sama kamu Ra” Keluh Geby
“Udah
ngomongnya? Kalo udah gua mau pergi nih!” Kata Zahra dingin
“Ra
kamu kenapa jujur Ra?” Tanya Geby
“Cepat
atau lambat lu tau kenapa gua gini” Kata Zahra dengan dingin lalu pergi
Setelah
meninggalkan Geby sendirian dikantin, Zahra berlari menuju taman kampus. Ia
kembali menyendiri di taman tersebut, terdiam tanpa melakukan apapun. Zahra
duduk memandang danau yang indah. Zahra menangis ditaman tersebut. Sungguh hati
Zahra masih sakit jika melihat wajah Geby. Dulu ia sangat sayang kepada Geby,
tapi semenjak kejadian itu rasa sayang sebagai sahabat lama kelamaan makin
memudar.
Setelah
menenangkan diri Zahra menelpon adiknya. Setelah berbicara panjang lebar lewat
telpon akhirnya Zahra mengajak adiknya ketemuan. Roby akhirnya menjemput Zahra
dikampus. Roby merasa kasihan melihat keadaan kakaknya yang sekarang, sungguh
Roby tak tega, tapi ia tak tau harus berbuat apa. Roby hanya terdiam saat
didalam mobil. Zahra pun tertunduk sambil menangis. Sungguh banyangan itu masih
ada. Bayangan Geby dan Jhonatan bermesraan. Zahra mengajak adiknya ke
restaurant yang sering mereka kunjungi.
Setelah
sampai Zahra langsung turun dari mobil dan masuk kedalam restaurant tersebut.
Zahra memilih meja paling pojok dan mendapatkan pemandangan yang romantis.
Sungguh tak disangka oleh Roby setelah memilih meja dan duduk kakaknya kembali
meneteskan air mata. Tak lama Zahra pun menghapus air matanya dan lalu memesan
makanan. Dan saat menunggu makanan yang mereka pesan siap Zahra mulai
berbicara.
“De
gua jahat ya?” Tanya Zahra sambil menunduk
“Lah
lu kenapa kak tiba-tiba ngomong gitu?” Kata Roby bingung
“Gak
de, gua ngerasa gua dapet karma sekarang!” Kata Zahra sedih
“Lah kenapa kak?
Lu jarang cerita lagi sama gua, mana gua tau kaka pa masalah lu? Gua Cuma baca
doang dari tweet tweet lu yang galau, tapi lu setiap gua tanya kenapa pasti lu
jawab gak apa-apa, kak cerita sama gua” Kata Roby
“Lu tau Jhonatan
kan de? Cowo gua? Lu tau kan, dia selingkuhin gua de, dan selingkuhnya itu sama
Geby de” Kata Zahra sambil menangis
“Kak jadi lu
diselingkuhin? Lu yakin?” Tanya Roby kaget
“Yakin de, lu
liat aja di hp gua, terus lu buka galeri dan lu liat disitu ada foto Jo sama
Geby” Kata Zahra sambil menangis
“Kakak sabar ya,
jangan nangis terus gua gak tega kak liat lu begini, kakak yang kuat ya ini
cobaan kak buat lu, dan ini pelajaran buat lu. Lu ngerasain kak jadi Geby
meskipun Geby gak pernah sadar perlakuan lu sama dia kak, kak gua ngerti kok
kaka pa yang lu rasain, tapi lu juga jangan nangis terus kak, lu jangan dingin
sama orang disekitar lu” Kata Roby sambil memeluk Zahra
“Tapi de, gua gak
pernah ngambil cowonya Geby sama kaya gini de, lu bayangin dong perasaan gua
sakit de sakit. Gua tau gua salah tapi kan juga jangan Jo de” Kata Zahra sambil
menangis dibahu adiknya
“Yang sabar ya
kak ini cobaan buat lu, lu harus tegar kak, lu harus kuat jangan lemah, lu
pasti bisa kok kak tersenyum meskipun hati lu menangis. Kakak yang gua kenal
gak kaya gini kak, Kakak yang gua kenal tegar, sabar, bijak, gak pernah
bersikap dingin kak, gua maul u berubah kaya dulu.” Kata Roby sambil menghapus
air mata Zahra
Tak
lama makanan yang mereka pesan sudah siap untuk disantap. Dan akhirnya mereka
menyantap makanan yang telah mereka pesan. Roby masih melihat air mata mengalir
dari ke dua mata kakaknya. Sungguh baru kali ini Roby melihat kakaknya menangis
dan sedih seperti ini. Roby ingin melihat kakaknya kembali tersenyum seperti
dahulu, penuh canda dan tawa, bukan penuh kesedihan seperti ini.
Setelah
menyantap makanan mereka, mereka memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan
menuju rumah, lagi-lagi Zahra tertunduk sambil menangis. Roby pun bingung harus
berbuat apa, ia tak bisa banyak berbicara. Setelah sampai dirumah Zahra
langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya. Zahra berpikir dan memutuskan
mengundurkan diri dari café milik Jhonatan. Ia tak sanggup melihat wajah
Jhonatan lagi. Luka hatinya masih sulit untuk diobati.
Pagi
harinya Zahra kuliah seperti biasa. Setiap ada Geby Zahra selalu menghindar ia
tak ingin luka hatinya lama sembuh dan selamanya akan membenci Geby, ia tak
ingin perpecahan menimpa persahabatan yang telah mereka jalin selama mereka
masih kecil. Zahra akan mengalah demi kebahagiaan Geby, meskipun itu merenggut kebahagiaannya.
Zahra akan mencoba mengikhlaskan semuanya demi persahabatan.
Sore
harinya Zahra pergi ke café untuk mengundurkan diri. Dan ternyata disitu ada
Jhonatan. Zahra masih bersikap dingin kepada kekasihnya. Zahra sangat sakit
melihat senyum yang terpancar dari wajah Jhonatan. Mata Zahra tetap tertuju
kedepan tanpa menghiraukan Jhonatan yang berada disampingnya.
“Maaf
Pak Dandi, saya mau mengundurkan diri dari café ini” Kata Zahra
“Kamu
serius Zahra?” Tanya Pak Dandi
“Saya serius Pak,
saya akan tampil disini besok sore abis itu saya tidak akan pernah tampil
disini lagi Pak. Maaf Pak selama saya bekerja disini saya kurang memuaskan
Bapak” Kata Zahra
“Jujur saya
sangat kecewa dengan keputusan kamu yang mengundurkan diri, tapi itu hak kamu
Ra, kamu berhak untuk mengundurkan diri kapan saja. Saya sangat puas dengan
kinerja kamu saat ini Ra” Kata Pak Dandi
Setelah
mengundurkan diri Zahra meminta izin untuk pulang. Tapi Pak Dandi menyuruhnya
menunggu sebentar. Pak Dandi berjalan menuju ruangannya, dan mengambil sebuah
gitar kesayangannya. Lalu Pak Dandi memberikannya kepada Zahra yang telah
berjasa untuk kemajuan café tersebut. Zahra terharu dengan perbuatan Pak Dandi,
setalah itu ia langsung mengucapkan terima kasih dan lalu pergi. Saat ingin berjalan
keluar ternyata ia dijegat oleh Jhonatan.
“Ra
aku mau ngomong” Kata Jhonatan sambil memegang tangan Zahra
“Gak ada yang
harus diomongin lagi” Kata Zahra sambil melepas tangan Jhonatan lalu pergi
Setelah
itu Zahra langsung berlari menuju mobilnya dan pergi pulang. Diperjalanan Zahra
hanya bisa terdiam dan termenung. Ia benar-benar muak dengan semuanya. Zahra
ingin cepat-cepat hari esok agar ia terlepas dari baying-bayang Jhonatan. Zahra
sangat terluka dengan semuanya. Saat itu Zahra kembali menagis didalam
mobilnya. Entah kenapa dia sangat rapuh, ia merasa jika ia yang sekarang buka
ia yang dulu. Zahra sangat merasakan perbedaan itu.
Saat
setelah sampai dirumah, Zahra hanya bisa terdiam dan menatap langit dari balkon
kamarnya. Lagi-lagi ia menangis dan berkata dalam hati “JIK A MEMANG AKU HARUS
HANCUR DEMI KEBAHAGIAN SAHABATKU, AKU RELA HARUS HANCUR DEMI PERSAHABATANKU,
DAN SEMOGA JALAN INI JALAN YANG TERBAIK UNTUK AKU, KAMU, DAN DIA. SEMOGA KALIAN
BAHAGIA AKU AKAN TERSENYUM BUAT KALIAN MESKIPUN HATIKU MENANGIS DAN MENJERIT
PERIH, TAPI SEMUA ITU AKAN KU TAHAN KARENA AKU TAK PERNAH SENDIRI MENGHADAPI
SEMUA MASALAH INI”
BERSAMBUNG…………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar