SATU BULAN KEMUDIAN
Hari berganti hari, bulan berganti bulan
Zahra bisa melupakan kejadian yang terjadi di hari-hari yang lalu. Persahabatan
Zahra dengan Geby, semakin hari semakin erat. Zahra sangat menjaga arti sebuah
persahabatan. Bagi Zahra persahabatan itu lebih penting dari CINTA.
Saat itu malam hari, entah kenapa Zahra
kembali bersedih. Tak terasa air matanya telah jatuh menghiasi kedua pipinya.
Sungguh sakit hati itu kembali lagi. Entah kenapa rasa menyesal menelimuti hati
Zahra. Hatinya tak rela melepaskan semua yang tlah ia miliki, tapi itu semua harus
Zahra lakukan demi persahabatan. Ia pun lalu mengambil buku diarynya dan
menulis sesuatu.
Setelah menulis diarynya Zahra mengambil
gitarnya, dan berjalan kearah balkon kamarnya. Ia duduk dilantai dan menikmati
suasana malam. Ia mulai memetik gitar kesayangannya. Sungguh ia sangat
menikmati suasana yang tercipta pada saat itu. Sungguh Zahra bernyayi dengan
sangat lembutnya dan permainan gitarnya sangat indah
“Dan lagi terjadi peristiwa terperih ,
Yang selalu kau beri,
Seakan tak berarti untuk kesekian kalinya,
Ku tak bisa berbuat apa lagi
Haruskah kita berakhir cukup sampai di sini,
Meski hati berkata tak mampu,
Tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini,
Mungkin ini jalan kita
Dan lagi terjadi peristiwa terperih ,
Yang selalu kau beri, Seakan aku tak berarti untuk kesekian kalinya,
Ku tak bisa berbuat apa lagi ooh
Haruskah kita berakhir cukup sampai di sini,
Meski hati berkata tak mampu,
Tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini,
Mungkin ini jalan kita
Dan lagi terjadi peristiwa terperih ,
Yang selalu kau beri” Zahra bernyanyi
Setelah
menyanyikan lagu tersebut air mata Zahra telah berlinang, jatuh membasahi kedua
pipinya,. Sugguh Zahra sudah tak kuat merasakan semuanya. Hati Zahra sangat
perih sangat gundah. Saat itu Zahra menangis sesuka hatinya. Ia ingin
melepaskan semua rasa sakit dihatinya. Tak disangka adiknya datang dan
lagi-lagi melihatnya menangis.
“Kak lu nangis lagi?” Tanya Roby
“Hah? Gak kok gua cuma kelilipan”
Kata Zahra
“Hah lu gila kak? Lu mau boongin
gua?” Kata Roby
“Siapa sih de yang mau boongin lu?”
Tanya Zahra
“Lu lah siapa lagi? Jujur kak lu
nangis lagi?” Tanya Roby
“Iya gua nangis lagi. Gua lemah
banget ya de, gini aja gua nangis” Kata Zahra
“Kenapa kak?” Tanya Roby
“Gua inget kejadian itu de, buat gua
merasa bersalah banget” Kata Zahra
“Udah lah kak, semua orang pernah
khilaf, gak ada manusia dimuka bumi ini yang sempurna, semua pernah ngelakuin
kesalahan kaya lu kak. Gua ngerti kak perasaan lu, gua ngerti lu nyesel banget
udah ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Tapi lu gak bisa lah kak terus-terusan
begini, lu juga udah ngambil keputusan kan? Ya udah lah kak lupain” Kata Roby
sambil menghapus air mata kakaknya
“De,kata-kata lu itu ngena banget
dihati gua, tapi perasaan gua masih sakit de sama keputusan yang gua ambil.
Yaaa udah lah ya gua juga udah relain, dan itu salah gua sendiri udah main api
de, sekarang gua kena imbasnya. Ya gua harus terima dengan senyum walaupun hati
gua nangis.” Kata Zahra sambil senyum
“Ohh iya kak, besok gua ikut lu
kerja lagi ya kak, kita nyanyiin lagunya Sammy aja kak, kita latihan sekarang”
Ajak Roby
“Hmmm yaudah de, ayuk latihan” Ajak
Zahra sambil tersenyum
“Hahahah tapi lu yang nanyi aja ya
kak, gua Cuma main gitarnya aja” Kata Roby sambil tertawa
“Hahahah iiya deh iya gua yang
nanyi, tapi lu ngiringinnya yang bener, awas lu kalo salah gua tabok” Kata
Zahra sambil tertawa
“wiiiiiddddiiiihhhhh galak,
hahahahha ydah ayuk latihan dari tadi bercanda mulu” Kata Roby sambil tertawa
“Tak ku sangka kau tinggalkan aku,
Akhiri semua yang telah berlalu, Tanpa ada satu kesempatan, Ku harus rela
kehilanganmu
Begitu perih
yang ku rasakan, Lalui hari tanpa hadirmu, Mencoba tuk melupakan, Kaulah yang
terdalam menghiasi hidupku
Biarlah kini serpihan hati, Menemani
air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani
air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani
air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu” Zahra bernyanyi
Setelah
latihan bersama Roby pamit kepada kakaknya untuk kembali kekamarnya. Dan Zahra
pun merasa puas telah bernyanyi dan bermain gitar bersama adiknya. Zahra kini
bisa tersenyum. Dan sedikit melupakan masalahnya. Zahra lekas ketempat tidur
dan memejamkan mata. Esok ia harus pergi kuliah dan berangkat kerja bersama
adiknya.
Keesokan
harinya Zahra tersenyum kepada adiknya. Orang tua mereka sangat bahagia melihat
mereka akur seperti ini. Zahra sangat gembira saat itu. Zahra sangat senang
dengan hari ini. Hari ini ia mencoba membuka lembaran baru. Ia menyium pipi
adiknya. Dan menyium kedua pipi orang tuanya. Setelah mereka sarapan bersama ia
mengajak Roby berangkat bersama. Roby pun menerimanya.
Sore
harinya Zahra dan Roby pergi ke café tempat Zahra bekerja. Diperjalanan Zahra
hanya terdiam membisu. Roby tak berani menegurnya, Roby takut membuat mood
Zahra hancur. Jadi, Roby memutuskan untuk diam. Akhirnya tak lama Zahra dan
Roby pun sampai di café. Zahra mengucapkan terima kasih kepada Roby. Dan
setelah mengucapkan itu Zahra masuk kedalam café dan Roby mengikuti dari
belakang. Saat didalam café Zahra dikenalkan dengan seorang pria yang sangat
tampan oleh pemilik café tersebut. Akhirnya Zahra berkenalan dengan pria
tersebut.
“Hy
gua Jhonatan, lu bisa panggil gua Jo” Kata Jhonatan sambil mengulurkan tangan
“Hy
gua Zahra” Kata Zahra sambil mengulurkan tangan
“Seneng
bisa kenal lu” Kata Jhonatan sabil tersenyum
“Hahaha
iya seneng juga bisa kenal sama lu” Kata Zahra sambil tersenyum
“Ohh
iya boleh ngobrol sebentar?” Tanya Jhonatan
“Hmmm gua sih
sebenernya mau, tapi gua harus tampil buat nyanyi maaf ya” Kata Zahra
“Ohh lu nyanyi
disini? Hahahaha ya udah gih nyanyi dulu, gua tunggu ya di meja belakang” Kata
Jhonatan sambil tersenyum
Setelah
perkenalan itu Zahra lupa akan kejadian masa lalunya. Zahra kini terasa ada
lembar baru telah mengisi kehidupannya. Ia bahagia telah mendapatkan teman
baru. Dan tak terasa Zahra sebentar lagi akan bernanyi di café tersebut. Zahra
hanya tersenyum kepada Roby, dan Roby pun hanya bisa tersenyum kembali kepada
kakaknya. Dan Akhirnya Zahra dan Roby tampil untuk bernyanyi. Zahra melihat
sekeliling dan ternyata ada Geby dan Kevin. Zahra sempat teringat masa lalu,
tapi segera ia buang. Dan akhirnya Zahra mulai memainkan gitarnya
“Tak ku sangka
kau tinggalkan aku, Akhiri semua yang telah berlalu, Tanpa ada satu kesempatan,
Ku harus rela kehilanganmu
Begitu perih
yang ku rasakan, Lalui hari tanpa hadirmu, Mencoba tuk melupakan, Kaulah yang
terdalam menghiasi hidupku
Biarlah kini serpihan hati, Menemani
air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani
air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini
serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu
mencintaimu” Zahra bernyanyi
“Weeewwww gila
Zahra” Kata salah satu pengunjung café
“Terima kasih
telah mendengarkan saya bernyanyi, sekian yang bisa saya nanyikan, kurang
lebihnya mohon maaf, sekali lagi saya dan adik saya mengucapkan terima kasih”
Kata Zahra
Saat
dibelakang panggung Zahra langsung memeluk Roby sangat erat, dan Roby pun
dengan canggung memeluk kakaknya juga. Zahra sangat senang saat itu. Pertama
adiknya mau menemaninya bekerja, kedua ia berhasil membuka lembar baru, dan
ketiga ia sukses menghibur para pengunjung café. Setelah berpelukan dengan
adiknya, Zahra langsung menyuruh adiknya makan dimeja seperti biasa. Zahra
pergi meninggalkan adiknya dan berjalan menuju meja belakang yang sudah ada
Jhonatan disitu.
“Hy
Jo, maaf lama” Kata Zahra sambil tersenyum
“Ohh
gak apa-apa kok Ra” Kata Jhonatan sambil tersenyum
“ehmmm”
Kata Zahra bingung
“Kenapa
Ra?” Kata Jhonatan
“Gua
bingung mau ngomong apa” Kata Zahra sambil menunduk
“Ya Allah Ra
kirain gua kenapa? Hahahaha ohh iya Ra gua mau Tanya boleh?” Tanya Jhonatan
“Mau nanya apa
Jo? Tanya aja gak apa-apa kok bakalan gua jawab” Kata Zahra sambil tersenyum
“Ehhhmm tadi itu
pacar lu Ra?” Tanya Jhonatan
“Hah pacar?
Hahahaha bukan Jo itu ade gua, hahaha kenapa emang?” Kata Zahra sambil tertawa
“Ohh kirain gua
itu pacar lu Ra hahaha, lagian deket baget kaya orang pacaran” Kata Jhonatan
sambil tertawa
“Hahaha gak lah
Jo dia adek gua, dia yang nemenin gua saat gua ada masalah, saat gua mau pergi
kadang dia yang nemenin” Kata Zahra
“Hmmm gitu toh”
Kata Jhonatan
“Hahaha iya Jo,
ohh iya lu siapanya pemilik café ini?” Tanya Zahra
“Hahaha gua
anaknya Pak Dandi kali Ra” Kata Jhonatan sambil tertawa
“HAH DEMI APAAN
LU?” Tanya Zahra kaget
“Wailah Ra
segitunya lu kaget hahahaha, iya Ra gua anaknya Pak Dandi pemilik café ini”
Kata Jhonatan sambil tersenyum
“Ihhh kok gua
baru tau ya” Kata Zahra bingung
“Hahaha gua 2
bulan ini liburan ke Italy ngeliat kakak gua yang tinggal disana, ortu gua gak
pada bisa ke Italy ya udah gua yang disuruh kesana sekalian liburan” Kata
Jhonata
“Tapi kok
kariyawan sini gak pada cerita ya?” Tanya Zahra
“Hahaha Zahra
Zahra lu aja yang gak mau tanya-tanya” Kata Jhonatan sambil tertawa
“Hahaha iya juga
sih” Kata Zahra sambil menunduk
“Ya udah Ra
sekarang kan lu udah tau siapa gua” Kata Jhonatan sambil tersenyum
“hmmmm iya Jo”
Kata Zahra sambil tersenyum
Setelah
berbincang-bincang mereka memesan makan. Dan selesai makan Jhonatan menawarkan
Zahra pulang bersama. Saat itu Zahra sangat bingung karena ia sedang bersama
adiknya. Akhirnya Zahra menolak ajakan Jhonatan karena ia akan pulang bersama
adiknya. Jhonatan mengerti dan tersenyum sambil berkata “Tapi lain kali gua
boleh kan anterin lu pulang” Zahra tersenyum dan sambil menganggukan kepala.
Saat
didalam mobil Zahra tersenyum terus menerus. Roby sangat senang melihat
kakaknya bisa tersenyum seperti ini. Zahra Merasa bahagia sangat bahagia saat
itu. Jhonata ternyata seseorang yang ramah dan humoris. Akhirnya mereka sampai
dirumah, dan Zahra berlari menuju kamarnya. Lalu mengambil buku diarynya dan
menulis sesuatu didalamnya.
Setelah
menulis diary tersebut lekas Zahra menaruh buku diarynya di laci mejanya. Tak
lama Hp Zahra bordering, ternyata Geby menelponnya. Zahra sungguh panic, taku….
Takut terjadi sesuatu dengan Geby, Zahra buru-buru mengangkat telpon Geby, dan
saat diangkat ternyata Geby sedang menangis dan akhirnya Zahra tambah panic
dengan tangisan Geby.
“Halloo
Zahra”Kata Geby sambil menangis
“Iya
kenapa Geby, kok kamu nangis?” Tanya Zahra
“Ra
aku berantem sama Kevin Ra, Kevin marah sama aku” Kata Geby sambil menangis
“yaudah sabar aja
Geby sayang, tar aku bantu ngomong deh sama Kevin” Kata Zahra
“Makasih ya Ra
udah mau bantu aku” Kata Geby
Setelah
menutup telpon dari Geby, Zahra langsung menelpon Kevin. Panjang lebar Zahra
berbicara dengan Kevin, Zahra meminta Kevin untuk berdamai dengan Geby, untuk
kembali bersama Geby. Kevin pun menuruti kata Zahra dan akhirnya Kevin dan Geby
kembali rujuk dan Geby pun kembali tersenyum. Zahra tak ingin Geby menangis
lagi. Ia ingin sahabatnya itu selalu tersenyum.
SATU BULAN
KEMUDIAN
Hari
pun berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Zahra dan Jhonatan sudah
semakin dekat. Zahra sangat nyaman berada didekat Jhonatan, begitu pula dengan
Jhonatan yang juga nyaman saat berada di dekat Zahra. Jhonata ingin mengucapkan
kata CINTA untuk Zahra tapi Jhonata takut di tolak oleh Zahra. Hati Jhonatan
sudah tak kuasa menahan semua rasa yang ingin segera diucapkan. Akhirnya
jhonata menghias café milik ayahnya menjadi suasana yang begitu romantis.
Jhonatan membeli 25 ikat mawar putih. Setelah semuanya siap Jhonatan memberi
tahu Zahra agar bersiap-siap bahwa Jhonatan akan segera menjemputnya.
“Zahra lu
siap-siap ya, gua mau ngajak lu makan malam, gua jemput jam 7. Gua harap lu
udah siap, kalo lu udah siap kita langsung jalan ketempat makan malam kita” isi
pesan Jhonatan
Setelah
mendapat pesan tersebut Zahra bergegas bersiap diri. Ia memilih baju yang bagus.
Setelah mendapatkan baju yang pas Zahra langsung bergegas mandi, sesudah ia
bersih-bersih, ia langsung memakai bajunya dan berdandan. Zahra sangat senang
saat itu diajak makan malam oleh seorang yang sangat ia kagumi. Tepat jam 7,
Zahra sudah siap untuk makan malam. Dan mobil Jhonatan pun sudah parkir diluar
rumah Zahra. Zahra pun keluar kamar dan langsung keluar rumah setelah meminta
izin kepada orang tuanya.
Akhirnya
mereka berangkat menuju café milik orang tua Jhonatan. Tak lama mereka sampai
ditempat tujuan. Jhonata cepat-capat turun dari mobil dan membukakan pintu
untuk Zahra. Zahra pun hanya tersenyum kepada Jhonatan. Mereka pun langsung
menuju meja makan yang telah disediakan. Saat ditengah-tengah makan malam
Jhonatan berlutut dihadapan Zahra sambil berkata.
“Mungkin aku
terlalu cepat untuk mengungkapkannya, Zahra maukah kamu jadi kekasihku?”Kata
Jhonatan sambil memberikan mawar putih
“iya aku terima
kamu” Kata Zahra sambil mengambil mawar putih tersebut
Dari kejadian itu mereka menjadi pasangan
kekasih…………BERSAMBUNG................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar