Senin, 02 Juli 2012

MUNGKIN YANG TERBAIK Part2


SATU BULAN KEMUDIAN
      Hari berganti hari, bulan berganti bulan Zahra bisa melupakan kejadian yang terjadi di hari-hari yang lalu. Persahabatan Zahra dengan Geby, semakin hari semakin erat. Zahra sangat menjaga arti sebuah persahabatan. Bagi Zahra persahabatan itu lebih penting dari CINTA.
      Saat itu malam hari, entah kenapa Zahra kembali bersedih. Tak terasa air matanya telah jatuh menghiasi kedua pipinya. Sungguh sakit hati itu kembali lagi. Entah kenapa rasa menyesal menelimuti hati Zahra. Hatinya tak rela melepaskan semua yang tlah ia miliki, tapi itu semua harus Zahra lakukan demi persahabatan. Ia pun lalu mengambil buku diarynya dan menulis sesuatu.
      Setelah menulis diarynya Zahra mengambil gitarnya, dan berjalan kearah balkon kamarnya. Ia duduk dilantai dan menikmati suasana malam. Ia mulai memetik gitar kesayangannya. Sungguh ia sangat menikmati suasana yang tercipta pada saat itu. Sungguh Zahra bernyayi dengan sangat lembutnya dan permainan gitarnya sangat indah
            Dan lagi terjadi peristiwa terperih , Yang selalu kau beri, Seakan tak berarti untuk kesekian kalinya, Ku tak bisa berbuat apa lagi
              Haruskah kita berakhir cukup sampai di sini, Meski hati berkata tak mampu, Tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini, Mungkin ini jalan kita
              Dan lagi terjadi peristiwa terperih , Yang selalu kau beri, Seakan aku tak berarti untuk kesekian kalinya, Ku tak bisa berbuat apa lagi ooh
              Haruskah kita berakhir cukup sampai di sini, Meski hati berkata tak mampu, Tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini, Mungkin ini jalan kita
              Dan lagi terjadi peristiwa terperih , Yang selalu kau beri” Zahra bernyanyi
      Setelah menyanyikan lagu tersebut air mata Zahra telah berlinang, jatuh membasahi kedua pipinya,. Sugguh Zahra sudah tak kuat merasakan semuanya. Hati Zahra sangat perih sangat gundah. Saat itu Zahra menangis sesuka hatinya. Ia ingin melepaskan semua rasa sakit dihatinya. Tak disangka adiknya datang dan lagi-lagi melihatnya menangis.
            “Kak lu nangis lagi?” Tanya Roby
            “Hah? Gak kok gua cuma kelilipan” Kata Zahra
            “Hah lu gila kak? Lu mau boongin gua?” Kata Roby
            “Siapa sih de yang mau boongin lu?” Tanya Zahra
            “Lu lah siapa lagi? Jujur kak lu nangis lagi?” Tanya Roby
            “Iya gua nangis lagi. Gua lemah banget ya de, gini aja gua nangis” Kata Zahra
            “Kenapa kak?” Tanya Roby
            “Gua inget kejadian itu de, buat gua merasa bersalah banget” Kata Zahra
            “Udah lah kak, semua orang pernah khilaf, gak ada manusia dimuka bumi ini yang sempurna, semua pernah ngelakuin kesalahan kaya lu kak. Gua ngerti kak perasaan lu, gua ngerti lu nyesel banget udah ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Tapi lu gak bisa lah kak terus-terusan begini, lu juga udah ngambil keputusan kan? Ya udah lah kak lupain” Kata Roby sambil menghapus air mata kakaknya
            “De,kata-kata lu itu ngena banget dihati gua, tapi perasaan gua masih sakit de sama keputusan yang gua ambil. Yaaa udah lah ya gua juga udah relain, dan itu salah gua sendiri udah main api de, sekarang gua kena imbasnya. Ya gua harus terima dengan senyum walaupun hati gua nangis.” Kata Zahra sambil senyum
            “Ohh iya kak, besok gua ikut lu kerja lagi ya kak, kita nyanyiin lagunya Sammy aja kak, kita latihan sekarang” Ajak Roby
            “Hmmm yaudah de, ayuk latihan” Ajak Zahra sambil tersenyum
            “Hahahah tapi lu yang nanyi aja ya kak, gua Cuma main gitarnya aja” Kata Roby sambil tertawa
            “Hahahah iiya deh iya gua yang nanyi, tapi lu ngiringinnya yang bener, awas lu kalo salah gua tabok” Kata Zahra sambil tertawa
            “wiiiiiddddiiiihhhhh galak, hahahahha ydah ayuk latihan dari tadi bercanda mulu” Kata Roby sambil tertawa
            Tak ku sangka kau tinggalkan aku, Akhiri semua yang telah berlalu, Tanpa ada satu kesempatan, Ku harus rela kehilanganmu
              Begitu perih yang ku rasakan, Lalui hari tanpa hadirmu, Mencoba tuk melupakan, Kaulah yang terdalam menghiasi hidupku
Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu” Zahra bernyanyi
      Setelah latihan bersama Roby pamit kepada kakaknya untuk kembali kekamarnya. Dan Zahra pun merasa puas telah bernyanyi dan bermain gitar bersama adiknya. Zahra kini bisa tersenyum. Dan sedikit melupakan masalahnya. Zahra lekas ketempat tidur dan memejamkan mata. Esok ia harus pergi kuliah dan berangkat kerja bersama adiknya.
      Keesokan harinya Zahra tersenyum kepada adiknya. Orang tua mereka sangat bahagia melihat mereka akur seperti ini. Zahra sangat gembira saat itu. Zahra sangat senang dengan hari ini. Hari ini ia mencoba membuka lembaran baru. Ia menyium pipi adiknya. Dan menyium kedua pipi orang tuanya. Setelah mereka sarapan bersama ia mengajak Roby berangkat bersama. Roby pun menerimanya.
      Sore harinya Zahra dan Roby pergi ke café tempat Zahra bekerja. Diperjalanan Zahra hanya terdiam membisu. Roby tak berani menegurnya, Roby takut membuat mood Zahra hancur. Jadi, Roby memutuskan untuk diam. Akhirnya tak lama Zahra dan Roby pun sampai di café. Zahra mengucapkan terima kasih kepada Roby. Dan setelah mengucapkan itu Zahra masuk kedalam café dan Roby mengikuti dari belakang. Saat didalam café Zahra dikenalkan dengan seorang pria yang sangat tampan oleh pemilik café tersebut. Akhirnya Zahra berkenalan dengan pria tersebut.
            “Hy gua Jhonatan, lu bisa panggil gua Jo” Kata Jhonatan sambil mengulurkan tangan
            “Hy gua Zahra” Kata Zahra sambil mengulurkan tangan
            “Seneng bisa kenal lu” Kata Jhonatan sabil tersenyum
            “Hahaha iya seneng juga bisa kenal sama lu” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Ohh iya boleh ngobrol sebentar?” Tanya Jhonatan
            “Hmmm gua sih sebenernya mau, tapi gua harus tampil buat nyanyi maaf ya” Kata Zahra
            “Ohh lu nyanyi disini? Hahahaha ya udah gih nyanyi dulu, gua tunggu ya di meja belakang” Kata Jhonatan sambil tersenyum
      Setelah perkenalan itu Zahra lupa akan kejadian masa lalunya. Zahra kini terasa ada lembar baru telah mengisi kehidupannya. Ia bahagia telah mendapatkan teman baru. Dan tak terasa Zahra sebentar lagi akan bernanyi di café tersebut. Zahra hanya tersenyum kepada Roby, dan Roby pun hanya bisa tersenyum kembali kepada kakaknya. Dan Akhirnya Zahra dan Roby tampil untuk bernyanyi. Zahra melihat sekeliling dan ternyata ada Geby dan Kevin. Zahra sempat teringat masa lalu, tapi segera ia buang. Dan akhirnya Zahra mulai memainkan gitarnya
              “Tak ku sangka kau tinggalkan aku, Akhiri semua yang telah berlalu, Tanpa ada satu kesempatan, Ku harus rela kehilanganmu
              Begitu perih yang ku rasakan, Lalui hari tanpa hadirmu, Mencoba tuk melupakan, Kaulah yang terdalam menghiasi hidupku
Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu
              Biarlah kini serpihan hati, Menemani air mataku, Hingga habis dayaku, Untuk selalu mencintaimu” Zahra bernyanyi
            “Weeewwww gila Zahra” Kata salah satu pengunjung café
            “Terima kasih telah mendengarkan saya bernyanyi, sekian yang bisa saya nanyikan, kurang lebihnya mohon maaf, sekali lagi saya dan adik saya mengucapkan terima kasih” Kata Zahra
      Saat dibelakang panggung Zahra langsung memeluk Roby sangat erat, dan Roby pun dengan canggung memeluk kakaknya juga. Zahra sangat senang saat itu. Pertama adiknya mau menemaninya bekerja, kedua ia berhasil membuka lembar baru, dan ketiga ia sukses menghibur para pengunjung café. Setelah berpelukan dengan adiknya, Zahra langsung menyuruh adiknya makan dimeja seperti biasa. Zahra pergi meninggalkan adiknya dan berjalan menuju meja belakang yang sudah ada Jhonatan disitu.
            “Hy Jo, maaf lama” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Ohh gak apa-apa kok Ra” Kata Jhonatan sambil tersenyum
            “ehmmm” Kata Zahra bingung
            “Kenapa Ra?” Kata Jhonatan
            “Gua bingung mau ngomong apa” Kata Zahra sambil menunduk
            “Ya Allah Ra kirain gua kenapa? Hahahaha ohh iya Ra gua mau Tanya boleh?” Tanya Jhonatan
            “Mau nanya apa Jo? Tanya aja gak apa-apa kok bakalan gua jawab” Kata Zahra sambil tersenyum
            “Ehhhmm tadi itu pacar lu Ra?” Tanya Jhonatan
            “Hah pacar? Hahahaha bukan Jo itu ade gua, hahaha kenapa emang?” Kata Zahra sambil tertawa
            “Ohh kirain gua itu pacar lu Ra hahaha, lagian deket baget kaya orang pacaran” Kata Jhonatan sambil tertawa
            “Hahaha gak lah Jo dia adek gua, dia yang nemenin gua saat gua ada masalah, saat gua mau pergi kadang dia yang nemenin” Kata Zahra
            “Hmmm gitu toh” Kata Jhonatan
            “Hahaha iya Jo, ohh iya lu siapanya pemilik café ini?” Tanya Zahra
            “Hahaha gua anaknya Pak Dandi kali Ra” Kata Jhonatan sambil tertawa
            “HAH DEMI APAAN LU?” Tanya Zahra kaget
            “Wailah Ra segitunya lu kaget hahahaha, iya Ra gua anaknya Pak Dandi pemilik café ini” Kata Jhonatan sambil tersenyum
            “Ihhh kok gua baru tau ya” Kata Zahra bingung
            “Hahaha gua 2 bulan ini liburan ke Italy ngeliat kakak gua yang tinggal disana, ortu gua gak pada bisa ke Italy ya udah gua yang disuruh kesana sekalian liburan” Kata Jhonata
            “Tapi kok kariyawan sini gak pada cerita ya?” Tanya Zahra
            “Hahaha Zahra Zahra lu aja yang gak mau tanya-tanya” Kata Jhonatan sambil tertawa
            “Hahaha iya juga sih” Kata Zahra sambil menunduk
            “Ya udah Ra sekarang kan lu udah tau siapa gua” Kata Jhonatan sambil tersenyum
            “hmmmm iya Jo” Kata Zahra sambil tersenyum
      Setelah berbincang-bincang mereka memesan makan. Dan selesai makan Jhonatan menawarkan Zahra pulang bersama. Saat itu Zahra sangat bingung karena ia sedang bersama adiknya. Akhirnya Zahra menolak ajakan Jhonatan karena ia akan pulang bersama adiknya. Jhonatan mengerti dan tersenyum sambil berkata “Tapi lain kali gua boleh kan anterin lu pulang” Zahra tersenyum dan sambil menganggukan kepala.
      Saat didalam mobil Zahra tersenyum terus menerus. Roby sangat senang melihat kakaknya bisa tersenyum seperti ini. Zahra Merasa bahagia sangat bahagia saat itu. Jhonata ternyata seseorang yang ramah dan humoris. Akhirnya mereka sampai dirumah, dan Zahra berlari menuju kamarnya. Lalu mengambil buku diarynya dan menulis sesuatu didalamnya.
      Setelah menulis diary tersebut lekas Zahra menaruh buku diarynya di laci mejanya. Tak lama Hp Zahra bordering, ternyata Geby menelponnya. Zahra sungguh panic, taku…. Takut terjadi sesuatu dengan Geby, Zahra buru-buru mengangkat telpon Geby, dan saat diangkat ternyata Geby sedang menangis dan akhirnya Zahra tambah panic dengan tangisan Geby.
            “Halloo Zahra”Kata Geby sambil menangis
            “Iya kenapa Geby, kok kamu nangis?” Tanya Zahra
            “Ra aku berantem sama Kevin Ra, Kevin marah sama aku” Kata Geby sambil menangis
            “yaudah sabar aja Geby sayang, tar aku bantu ngomong deh sama Kevin” Kata Zahra
            “Makasih ya Ra udah mau bantu aku” Kata Geby
      Setelah menutup telpon dari Geby, Zahra langsung menelpon Kevin. Panjang lebar Zahra berbicara dengan Kevin, Zahra meminta Kevin untuk berdamai dengan Geby, untuk kembali bersama Geby. Kevin pun menuruti kata Zahra dan akhirnya Kevin dan Geby kembali rujuk dan Geby pun kembali tersenyum. Zahra tak ingin Geby menangis lagi. Ia ingin sahabatnya itu selalu tersenyum.
SATU BULAN KEMUDIAN
      Hari pun berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Zahra dan Jhonatan sudah semakin dekat. Zahra sangat nyaman berada didekat Jhonatan, begitu pula dengan Jhonatan yang juga nyaman saat berada di dekat Zahra. Jhonata ingin mengucapkan kata CINTA untuk Zahra tapi Jhonata takut di tolak oleh Zahra. Hati Jhonatan sudah tak kuasa menahan semua rasa yang ingin segera diucapkan. Akhirnya jhonata menghias café milik ayahnya menjadi suasana yang begitu romantis. Jhonatan membeli 25 ikat mawar putih. Setelah semuanya siap Jhonatan memberi tahu Zahra agar bersiap-siap bahwa Jhonatan akan segera menjemputnya.
            “Zahra lu siap-siap ya, gua mau ngajak lu makan malam, gua jemput jam 7. Gua harap lu udah siap, kalo lu udah siap kita langsung jalan ketempat makan malam kita” isi pesan Jhonatan
      Setelah mendapat pesan tersebut Zahra bergegas bersiap diri. Ia memilih baju yang bagus. Setelah mendapatkan baju yang pas Zahra langsung bergegas mandi, sesudah ia bersih-bersih, ia langsung memakai bajunya dan berdandan. Zahra sangat senang saat itu diajak makan malam oleh seorang yang sangat ia kagumi. Tepat jam 7, Zahra sudah siap untuk makan malam. Dan mobil Jhonatan pun sudah parkir diluar rumah Zahra. Zahra pun keluar kamar dan langsung keluar rumah setelah meminta izin kepada orang tuanya.
      Akhirnya mereka berangkat menuju café milik orang tua Jhonatan. Tak lama mereka sampai ditempat tujuan. Jhonata cepat-capat turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zahra. Zahra pun hanya tersenyum kepada Jhonatan. Mereka pun langsung menuju meja makan yang telah disediakan. Saat ditengah-tengah makan malam Jhonatan berlutut dihadapan Zahra sambil berkata.
            “Mungkin aku terlalu cepat untuk mengungkapkannya, Zahra maukah kamu jadi kekasihku?”Kata Jhonatan sambil memberikan mawar putih
            “iya aku terima kamu” Kata Zahra sambil mengambil mawar putih tersebut
Dari kejadian itu mereka menjadi pasangan kekasih…………

BERSAMBUNG................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar